Rabu Besok, Ribuan Pedagang Kartu Perdana Seluler Kembali Berunjuk rasa di Depan Istana

Massa akan meminta Presiden Joko Widodo menghapus aturan pembatasan registrasi mandiri satu nomor induk kependudukan (NIK), untuk tiga kartu perdana.

Rabu Besok, Ribuan Pedagang Kartu Perdana Seluler Kembali Berunjuk rasa di Depan Istana
kominfo.go.id
Ilustrasi Kartu Prabayar 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA -- Sepuluh ribu pedagang kartu perdana telepon genggam bakal kembali menggelar aksi di depan Istana Negara, Rabu (9/5/2018) besok. 

Massa yang akan berunjuk rasa merupakan perwakilan pedagang kecil dari Banda Aceh, Batam, Pekanbaru, Padang, Medan, Lampung, Bandung, Cianjur, Garut, Surabaya, Malang, DI Yogyakarta, Solo, Semarang, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Jabodetabek.

Ketua Umum Kesatuan Niaga Celluler Indonesia (KNCI) Qutni Tysari mengatakan, unjuk rasa bertajuk “aksi bisu pembunuhan massal outlet seluler Indonesia” beragendakan dua tuntutan.

Pertama, meminta kepada Presiden Joko Widodo menghapus aturan pembatasan registrasi mandiri satu nomor induk kependudukan (NIK) hanya untuk tiga kartu perdana. 

Kemudian, memohon pada presiden mencopot Rudiantara dari jabatan Menteri Komunikasi dan Informatika.

"Target aksi, negoisasi minimal adalah dengan Kepala Staff Kepresidenan Moeldoko. Di luar pihak Istana itu kami tidak bersedia dan tetap bertahan melakukan aksi," ujar Qutni kepada wartawan di Jakarta, Senin (7/5/2018). 

Qutni mengatakan, pembatasan registrasi 1 NIK hanya 3 kartu perdana yang dikeluarkan Kemenkominfo, telah menjadi pembahasan dan tuntutan panjang KNCI sejak Juli 2017 lalu.

Namun sampai saat ini tidak menghasilkan apapun.

Bahkan janji Kemkominfo pada 7 November 2017 dan juga pada aksi 2 April 2018 untuk menyelenggarakan sistem registrasi di outlet sebagai solusi, juga tidak terealisasi sampai saat ini.

"Pembatasan registrasi mandiri 1 NIK 3 kartu perdana tidak hanya mematikan outlet selaku UMKM, tapi juga merugikan masyarakat dalam mendapatkan layanan telekomunikasi yang murah dan berkualitas," kata Qutni.

Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved