Surabaya Diteror Bom

Kemiskinan Bukan Faktor Utama Merebaknya Paham Terorisme

"Jadi terorisme bukan persoalan kemiskinan. Lihat saja pelaku bom bunuh diri di Surabaya bukan berasal dari kalangan masyarakat miskin," ujar Heru

Kemiskinan Bukan Faktor Utama Merebaknya Paham Terorisme
TRIBUN/HO
Densus 88 mengamankan terduga teroris. (Ilustrasi) 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA -- Faktor ekonomi dan kemiskinan tidak dinilai bukan menjadi pemicu utama pelaku teror melakukan aksi keji hingga mengakibatkan korban jiwa. 

Aksi terorisme dan gerakan radikal lebih cenderung karena ideologi dan doktrin yang diyakini para pelakunya. Hal ini terjadi karena Pemerintah kurang sigap melakukan upaya pencegahan.

Ketua Harian Badan Pelaksana Perguruan Tinggi Nahdatul Ulama (BP3TNU) Universitas NU Heru Dharsono mengatakan, terorisme adalah soal keyakinan dan lingkungan komunitas.

Baca: Ais Bocah yang Selamat,Ternyata Anak Pelaku Bomber Penyerang Mapolrestabes Surabaya

Saat orang salah hidup berkomunitas dan komunitas atau lingkungan itu akan membentuknya hingga menjadi paham keyakinan salah satunya paham radikalisme. 

"Jadi terorisme bukan persoalan kemiskinan. Lihat saja pelaku bom bunuh diri di Surabaya bukan berasal dari kalangan masyarakat miskin," ujar Heru kepada wartawan di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Heru meminta, pemerintah berpikir lebih kreatif untuk menanggulangi paham ektrimis dan radikal yang belakangan mulai mengancam keutuhan NKRI. 

Baca: Sederet Fakta Pelaku Bom Gereja Surabaya, Satu Keluarga Jadi Bomber dan Anggota JAD

Menurutnya pemerintah harus gencar melakukan pencegahan dan penanggulangan paham radikal ini dengan mengintensifkan sinergi dengan lembaga pendidikan maupun menggandeng komunitas masyarakat. 

Terlebih pasca reformasi liberalis paham seolah tumbuh subur dan terkesan dibiarkan sehingga semakin mengkristal. 

"Sebenarnya paramater sederhana dan dasar sudah ada seperti azas tunggal Pancasila, UUD, NKRI juga roh kebhinekaan. Harus tidak ditolerir bila ada yang paham yang bertentangan. Sistem ketatanegaraan kita sudab final mengapa didiamkan  jika ada yang ingin merubahnya. Kerentanan dan kebablasan ini dimanfaatkan oleh kelompok radikalis dan kelompok yang punya tujuan rusuh," kata Heru.

Baca: Dibonceng Bomber Serang Mapolrestabes Surabaya, Seorang Anak Kecil Selamat 

Ketua Alumni Pasca Sarjana Unhan ini memberikan saran agar pemerintah lebih aktif melibatkan kalangan masyarakat sipil dan lingkungan keluarga. 

Pasalnya, untuk membumi hanguskan sel-sel terorisme Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri

"Ada sebuah teori jika kita alpa dalam memantau kegiatan mereka (terorisme) maka keluarga kita maka lingkung yan akan mengambil alihnya. Mencegah lebih baik daripada menanggulangi api yang sudah berkobar ayo kita padamkan bersama siram dengan sesuatu yang menyejukan. Jangan jangan menyerah, indonesia kuat dan kita pasti bisa," kata Heru.

Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved