Warga Depok Dapat Tukar Sampah Organik Dengan Pupuk Organik Secara Gratis

Tidak hanya bekerja sama dengan warga, DIHK Kota Depok juga bekerja sama dengan pengelola pasar agar sampah organik dari pasar dapat diolah.

Penulis: Bima Putra | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Proses pencacahan sampah organik di UPS Merdeka, Sukmajaya, Depok, Jumat (25/5/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, SUKMAJAYA - Warga Kota Depok dapat menukarkan sampah organik seperti sisa makanan, dedaunan dengan pupuk organik.

Dalam penukaran yang dilakukan di Unit Pengelola Sampah (UPS) tidak ada minimal jumlah sampah yang ditukar.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Kebersihan dan Kemitraan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok Iyay.

"Jadi menukarkan sampah organik, seperti sisa makanan. Penukarannya gratis, untuk menggiatkan warga. Enggak ada batasan, biasanya satu ember sampah organik ditukar satu ember pupuk organik. Kalau mau ditukar pakai satu karung pupuk organik juga bisa," kata Iyay saat dihubungi, Sukmajaya, Depok, Jumat (25/5/2018).

Baca: Ada Tempat Mandi Sauna di TPA Winongo Kota Madiun Ini, Semuanya Memanfaatkan Sampah

Baca: Produk Pupuk Kalah Saing, Pondok Kompos Pasar Grogol Berhenti Produksi

Tidak hanya bekerja sama dengan warga, DIHK Kota Depok juga bekerja sama dengan pengelola pasar agar sampah organik dari pasar dapat diolah.

Bagi komunitas yang berkebun, pupuk organik diberikan secara gratis guna membantu upaya mereka.

"Kalau buat komunitas yang berkebun kita kasih. Kita juga kerja sama dengan pengelola pasar, seperti Pasar Agung itu sampah organiknya dikirim ke UPS untuk diolah," jelasnya.

Program pengolahan sampah organik ini sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu dan terus dikembangkan.

Kini, pemilihan sampah organik tidak lagi dilakukan di UPS, tetapi dilakukan di tingkat warga.

Sebelum jadi pupuk organik siap pakai, butuh waktu 11 hingga 12 minggu untuk melakukan proses pengolahan.

"Pertama dicacah, lalu hasilnya dibolak-balik biar suhunya panas, lalu dibikin gundukan-gundukan. Jadi ada beberapa proses, butuh waktu 11 sampai 12 minggu untuk prosesnya," kata Iyay.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved