Breaking News:

Ramadan 2018

VIDEO Makam Mbah Priuk Dahulu di Pondok Dayu Sebelum Dipindahkan ke Kawasan Koja

Setelah beberapa waktu, Belanda pun melanjutkan pembagunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (DOK).

Penulis: Rafdi Ghufran Bustomi | Editor: Wahyu Aji

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Rafdi Ghufran

TRIBUNJAKARTA.COM, KOJA - Makam Keramat Mbah Priuk berada di Pondok Dayu sebelum dipindahkan ke kawasan Koja, Jakarta Utara seperti sekarang.

Hal itu diungkapkan Sekertaris Yayasan Makam Mbah Priuk, Ahmad Chandra saat ditemui di lokasi.

Pada awalnya Chandra bercerita saat itu Belanda hendak membuat pelabuhan di kawasan Pondok Dayu setelah 23 tahun Mbah Priuk dimakamkan disana.

Pasa saat pembangunan banyak pekerja dan opsir Belanda yang tewas akibat pengerjaan pelabuhan.

Hal itu membuat pemerintah Belanda bingung dan memutuskan untuk menghentikan sementara pembangunan tersebut.

Baca: VIDEO Sejarah Singkat Mbah Priuk, Wafat Dalam Perjalanan Berdakwah  

Setelah beberapa waktu, Belanda pun melanjutkan pembagunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (DOK).

Saat pengekeran berlangsung pihak Belanda dikejutkan karena melihat ada makam di kawasan itu.

Di makam tersebut pihak Belanda melihat seseorang berjubah puti sambil memutar tasbih di jarinya.

Setelah membicarakan kejadian tersebut, pemerintah Belanda sepakat untuk memanggil kyai yang dapat berkomunikasi dengan orang berjubah putih itu (Mbah Priuk).

Suasana Makam Mbah Priuk, Koja, Jakarta Utara Jumat (1/6/2018)
Suasana Makam Mbah Priuk, Koja, Jakarta Utara Jumat (1/6/2018) (TRIBUNJAKARTA.COM/RAFDI GHUFRAN BUSTOMI)

Akhirnya diambil dua kesimpulan, pertama, jika tempat itu hendak dijadikan pelabuhan oleh Belanda, jenazah Mbah Priuk harus dipindahkan terlebih dahulu.

Kedua, untuk memindahkan jenazah Mbah Priuk hendaknya terlebih dahulu menghubungi adik dari Mbah Priuk yaitu Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad RA yang bertempat tinggal di Ulu Palembang, Sumatera Selatan.

Baca: Pernah Berjabat Tangan Langsung, Ini Kisah Pria yang Disebut Mirip Soeharto di Sosial Media 

Pemerintah Belanda pun menyetujui hal tersebut dan diberikannya tanah yang luas.

“Jenazah beliau itu kan makam pertamanya ada di markas TNI Angkatan Laut, karena Belanda menghormati tradisi, menghormati pribumi, orang-orang Belanda ini mencari seorang kyai untuk meminta izin agar beliau ini mau pindah yang akhirnya terjadi lah kesepakan tersebut, karena beliau dipindahkan kemari dengan dikasih tanah yang luas,” kata Chandra Jumat (1/6/2018).

Konon pada saat dipindahkan, jenazah Mbah Priuk masih dalam keadaan utuh dan mengeluarkan aroma harum, kelopak matanya pun masih bergetar seperti orang hidup.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved