Breaking News:

Pendeta Henderson Bunuh Anak Angkat: Cinta Terlarang, Reaksi Istri Sampai Respon PGI

Pendeta Henderson Sembiring Kembaren tega membunuh anak angkatnya sendiri Rosalina Cici Siahaan.

Kolase Tribun Medan
Pendeta Henderson 

TRIBUNJAKARTA.COM, MEDAN - Pendeta Henderson Sembiring Kembaren tega membunuh anak angkatnya sendiri Rosalina Cici Siahaan.

Rosalina ditemukan tewas dalam kondisi yang mengenaskan.

Disekujur tubuhnya terdapat luka-luka.

Luku kena gorok senjata tajam pada leher, luka benda tumpul pada bagian kepala.

Penangkapan Henderson hanya berkisar 7 jam lamanya setelah kejadian pembunuhan itu.

TribunJakarta.com merangkum fakta terbaru pembunuhan tragis itu yang dikutip dari Tribun Medan.

1. PGI Angkat Bicara

Ketua Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Sumatera Utara Pendeta Darwis Manurung mengatakan Pendeta Henderson Sembiring Kembaren, tersangka kasus pembunuh Rosalina Cici Siahaan, bukanlah bagian dari PGI.

"Gereja Sidang Rohkudus Indonesia, bukanlah bagian dari PGI, mereka itu berdiri sendiri. Pendetanya juga sendiri, kami dari PGI tidak melakukan pengawasan sama mereka," ujar Pendeta Darwis melalui sambungan telepon, Jumat (1/6/2018).

Baca: Gantung Diri Karena Khawatir Gagal Masuk SMA Favorit, Siswi SMP Ini Tulis 4 Surat Wasiat

Darwis pun menjelaskan pendeta-pendeta di gereja yang bergabung dengan PGI berada dalam pengawasan badan PGI.

Selain itu, ada juga pengawasan dari Sinode gereja, tempat pendeta bertugas.

Proses lainnya, untuk menjadi pendeta di gereja yang tergabung dengan PGI, seseoang harus terlebih dahulu menempuh sekolah pendeta.

"Pendeta di PGI harus sekolah. Kalau di gereja yang tidak terdaftar di kami, ada yang diangkat sendiri, karena ayahnya pendeta, atau kakeknya pendeta. Gerejanya juga biasanya didirikan sendiri oleh pendetanya," ujar Darwis.

Meski demikian, Darwis menyampaikan kekecewaannya terhadap perilaku yang dilakukan Pendeta Henderson tersebut, karena membuat nama gereja tercemar.

Apalagi perilaku bejatnya adalah hal yang sangat dilarang dalam ajaran agama mana pun.

"Sebagai pendeta seharusnya menebarkan kasih sayang dan tidak membuat hal-hal tercela, karena dalam ajaran mana pun dilarang membunuh. Ini dia sudah melanggar perintah Tuhan. Hal demikian sangat tidak bisa ditolerir dalam PGI, " ujarnya.

Darwis menyampaikan sesuai aturan PGI dan Sinode gereja yang tergabung dalam PGI, pengawasan terhadap pendeta sangat ketat, karena menjadi pendeta harus menjadi panutan bagi jemaatnya.

"Sedikit saja pendetanya menyimpang, maka sanksi akan menunggu si Pendeta," ujarnya.

2. Jadi Penakut

Pendeta Henderson
Pendeta Henderson (Tribunnews.com)

Pendeta Henderson Sembiring Ketaren (54 tahun), tiba-tiba menjadi seorang penakut, tidak berani ditinggal seorang diri, sekalipun berada di kantor polisi.

Ia masih menjalani pemeriksaan atas dugaan melakukan pelecehan seksual serta membunuh Rosalia Cici Maretini boru Siahaan (21), anak angkatnya.

Polisi mengungkap kemungkinan keduanya menjalin hubungan cinta terlarang.

Baca: Jasad Pria di Kebun Sawit Terungkap, Korban Dituduh Maling Motor Sebelum Dibunuh

"Takutnya itu kalau ditinggal sebentar aja sama penyidik, dia langsung bilang 'pak-pak tolong jangan pergi dulu. Sini ajalah, tolonglah saya'," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Deliserdang, AKP Ruzi Gusman kepada Harian Tribun Medan/daring Tribun-Medan.com, Jumat (1/6/2018).

AKP Ruzi menyebut pemeriksaan terhadap Pendeta Henderson ini diperkirakan memakan waktu lama. Perkara seperti ini harus dipemeriksa secara mendetail.

Agar suasana kebatinan tersangka tidak semakin terganggu, polisi melarang orang lain, termasuk keluarganya menemuinya.

"Ini kan kasus besar. Kami mau cek juga kejiwaannya. Kalau punya gangguan jiwa, tidak sepertinya tpi kami masih terus dalamilah keterangan yang dia berikan," kata AKP Ruzi.

Pendeta pada Gereja Sidang Rohulkudus Indonesia (GSRI) itu diduga menjadi pelaku pembunuhan terhadap Rosalia, anak angkat sekaligus jemaatnya.

Sehari pascakejadian, penyidik telah menemukan fakta-fakta baru.

Misalnya, antara Rosalia dan pendeta terjadil hubungan cinta terlarang yang sudah berlangsung selama empat tahun.

Baca: Mari Mengenal Kesaktian Jokotole Naga Putih, Silat yang Dipakai Irfan Taklukkan Begal di Bekasi

"Kami belum tau apakah pada saat kejadian korban ini diperkosa atau tidak. Karena memang ada hubungan asmara sebenarnya mereka. Katanya sudah empat tahun, tapi ini masih kami dalami karena masih dari keterangan dia saja kan," ujar Ruzi.

Harian ini memberitakan kemarin, polisi menangkap Pendeta Henderson Sembiring Kembaren saat hendak melarikan diri, Kamis (31/5) sore.

Ia diringkus sekitar pukul 16.30 WIB, di kawasan Harjosari Pancurbatu,

Deliserdang tanpa perlawanan, berselang sekitar tujuh jam setelah dugaan tindak pidana pembunuhan dan pelecehan seksual terhadap Rosalia.

Warga menemukan Rosalia meregang nyawanya di kamar mandi gereja GSRI yang terletak di Dusun XII, Desa Limau Manis, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.

Sekitar pukul 10.30 WIB, warga mendengar suara jeritan minta tolong yang bersumber dari bagian belakang gereja. Di sana terdapat bangunan sekaligus hunian keluarga pendeta.

Kabid Humas Polda Sumut AKBP Tatan Dirsan Atmaja membenarkan polisi telah menangkap Pendeta Henderson Sembiring Kembaren.

Belakangan diketahui, cairan diduga sperma ditemukan pada kemaluan Rosalia.

"Setelah kami lakukan pengejaran, pelaku berhasil diamankan. Dan saat diintograsi, pelaku mengakui perbuatannya. Sebelumnya, terjadi cekcok antara pelaku dan korban sehingga pelaku emosi dan kehilangan kendali. Pelaku sudah diamankan ke Polres Deli Serdang," ujar AKBP Tatan.

3. Istri Henderson Murung

Keluarga Henderson Sembiring berkumpul di depan teras rumahnya Jum,at, (1/6/2018).
Keluarga Henderson Sembiring berkumpul di depan teras rumahnya Jum,at, (1/6/2018). (Tribun Medan)

I beru Ginting, istri pendeta Henderson Sembiring Kembaren (52 tahun), tampak selalu murung saat ditemui di dalam rumah.

Ia terus-terusan menangis.

Sejak suaminya ditangkap polisi atas dugaan pembunuhan dan pelecehan seksual, Kamis (31/5/2018) sore, ia tidak berani keluar rumah bertemu dengan para tetangganya di Dusun VI Desa Nogo Rejo, Kecamatan Galang, Kabupaten Deliserdang.

Saat Harian Tribun Medan/daring Tribun Medan mengunjungi rumah ini, I beru Ginting tidak bersedia ditemui.

M Br Ginting, kakaknya, mengatakan selain terus-terusan menangis, I beru Ginting juga kerap kali memukuli dadanya sendiri.

Pihak keluarga belum percaya Henderson tega dan nekat melakukan perbuatan keji terhadap Rosalia, orang yang juga pernah bertahun-tahun tinggal bersama di rumahnya ini

"Tadi malam nggak bisa tidur dia (I Br Ginting) itu. Ya, Ia menangis saja kerjanya, karena memang nggak sangka bisa seperti itu. Rumahku sebenarnya di Biru-Biru, karena kejadian ini, datanglah aku kemarin. Adikku ini selama ini nggak pernah berbuat yang aneh-aneh, nggak pernah lah menjelekkan nama keluarga. Entah setan apalah yang kemarin masuk ke dia itu makanya bisa seperti itu. Bukan adikku saja yang nggak bisa tidur aku pun sama, nggak tidur kami sekeluarga ini tadi malam," ujar M Br Ginting.

Awal Tribun mendatangi rumah Henderson, M Br Ginting sempat mengaku ia lah istri Henderson.

Namun lama-kelamaan ia meluruskan, hanyalah kakak ipar terduga pelaku pembunuhan itu. Ia mengaku melakukan hal ini agar adiknya itu tidak lagi terpukul karena belum berani bertemu dengan orang-orang.

"Adikku belum siaplah jumpa wartawan. Nangis saja dia itu. Untung ada anak-anaknya yang menyuruhnya untuk kuat. Berulang kali anaknya bilang, 'kuat mamak ya, kuat mamak'. Aku pun ya menasihati seperti itu, tapi cemanalah memang, sudah seperti ini kejadiannya. Wiss nggak sangka kalilah kami, nggak pernah macam-macam dia itu. Silakan kalian tanya saja sama warga sini seperti apa adik kami ini. Tau semuanya mereka itu," kata M Br Ginting.

Awalnya pintu rumah Henderson ini terbuka lebar, namun begitu mengetahui yang datang adalah wartawan pintu pun ditutup rapat.

Keluarga mencoba menghubungi keluarganya yang lain dan tinggal tidak jauh dari rumahnya ini.

4. Anak Ungkap Sosok Ayahnya

Pendeta Henderson
Pendeta Henderson (Handover)

Perbincangan Tribun dengan M Br Ginting dan keluarganya yang lain hanya berlangsung diteras rumah.

Saat itu pihak keluarga pun sempat menanyakan apakah ada foto terbaru penangkapan Henderson.

Karena kebetulan foto terbaru ada, dari dalam rumah, I Br Ginting pun menyuruh anaknya untuk melihatkan foto yang ada tersimpan di dalam handphone.

Saat itu anaknya yang perempuan pun, Yesi Br Sembiring memperlihatkan foto ayahnya setelah ditangkap polisi kepada ibunya, melalui jendela.

Yesi beru Sembiring, anak bungsu Pendeta Henderson, memberikan penjelasan bagaimana sebenarnya sosok ayahnya.

Saat Tribun Medan berbincang dengan keluarganya, di teras rumah.

Saat itu dengan nada penegasan ia menyebut kalau bapaknya itu merupakan orang yang sangat baik. Selama ini ayahnya itupun dikenal orang yang cukup rajin beribadah.

"Jangankan minum-minuman, merokok saja dia (Henderson) tidak pernah. Boleh tanya sama warga sini bagaimana orangnya. Orangnya baik tidak pernah itu (buat malu keluarga)," kata Yesi.

Yesi merupakan anak bungsu Henderson dari dua bersaudara. Henderson mempunyai seorang istri dan dua anak

5. Henderson Dikenal Orang Baik

Tidak seorang pun dari pihak keluarga dan orang mengenalnya bahwa Pendeta Henderson tega dan enkat membunuh.

Sebab ia terkenal sebagai orang baik, di mata keluarga maupun tetanggganya di Desa Nogo Rejo, Kecamatan Galang, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

Kepala Desa Nogo Rejo, Suyono mengatakan selama ini, Henderson ia belum pernah menjelekkan atau mencemarkan nama desa.

Sehari-hari ia dikenal sebagai petani karet di lahannya sendiri.

"Ya bagus orangnya, selama ini nggak ada yang aneh-aneh dilakukannya. Sama warga sini belum ada cacatnya lah. Baru kali ini kejadian seperti ini. Saya dan warga lain ya terkejut lah," ujar Suyono.

Hal yang tidak jauh berbeda juga diucapkan Yesi Br Sembiring yang merupakan anak gadis Henderson. Ia mengaku ayahnya itu cukup baik dan rajin beribadah.

"Jangankan minum-minuman, merokok saja dia (Henderson) tidak pernah. Boleh tanya sama warga sini bagaimana orangnya. Orangnya baik tidak pernah buat kecewa (buat malu keluarga selama ini)," kata Yesi.

Yesi sendiri merupakan anak kedua Henderson dan merupakan yang paling bungsu. Henderson mempunyai seorang istri dan dua orang anak.

6. Pengakuan Saksi Mata

Keluarga dan sanak famili berdatangan ke rumah duka, Jalan Selamat Ujung Gang Jadi, Jumat (1/6/2018).
Keluarga dan sanak famili berdatangan ke rumah duka, Jalan Selamat Ujung Gang Jadi, Jumat (1/6/2018). (TRIBUN MEDAN /M FADLI TARADIFA)

Tetti boru Silaban adalah saksi mata, yang juga masih mempunyai hubungan keluarga dengan Rosa. Ialah orang yang pertama sekali menemukan jasad korban di kamar mandi, Kamis (31/5) sekitar pukul 10.30 WIB.

Saksi lainnya, Boru Sitanggang mengatakan saat kejadian, ia dan warga lainnya sedang duduk-duduk di depan teras rumah warga, yang posisinya juga berhadapan dengan gerbang gereja.

Mereka sempat mendengar suara jeritan minta tolong dari dalam gereja. Warga berkeyakinan telah terjadi sesuatu yang kurang beres, sehingga mereka mendekati sumber suara mencari apa sesungguhnya terjadi. Selain mengenali Rosalia, warga mengenal Pendeta Henderson Sembiring.

"Orang kami sedang duduk-duduknya di teras ini, jadi sempat dengar suara jeritan. Saat kami tanya suara apa itu, pendeta itu bilang, 'gak adanya itu, cuma suara kucingnya'. Saat ngomong itu dia (pendeta) macam nggak ada kejadian. Nelpon dia entah pura-pura entah betulan. Sempat pun dibilangnya dan teriak dia dari luar, Rosa (sebutan akrab korban), aku beli nasi dulu ya. Terus dia gembok pagar gereja dan pergi naik sepeda motor," ujar Boru Sitanggang. (Tribun Medan)

Penulis: Ferdinand Waskita Suryacahya
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved