Mengenal Tradisi ‘Maleman’ di Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya
Tradisi ini banyak diikuti oleh para pengunjung, terutama di tanggal ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan.
TRIBUNJAKARTA.COM, SURABAYA - Masjid Agung Sunan Ampel tak pernah sepi pengunjung begitu pun saat bulan Ramadan tiba.
Bahkan, puncaknya, tanggal ganjil di 10 hari terakhir, masjid peninggalan Sunan Ampel, seorang Wali Songo, itu kian ramai oleh pengunjung.
Sunan Ampel adalah salah satu tokoh penting yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa.
Baca: Jawab Keluhan Masyarakat Terkait Peredaran Narkoba, Polsek Pesanggrahan Bekuk Seorang Pemuda
Lahir pada tahun 1401 M, nama kecil Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Dia adalah putera dari Syekh Maulana Malik Ibrahim, bapak para wali tanah Jawa dari ibu seorang puteri Raja Campa (Kamboja).
Raden Rahmat melanjutkan perjuangan bapaknya dalam menegakkan Islam di tanah Jawa.
Berkat perjuangannya menyebarkan islam di tanah Jawa. Kini, Masjid Agung Sunan Ampel yang terletak di Ampel, Semampir, Surabaya selalu didatangi para jamaah dari seluruh Indonesia ada pun masyarkat luar negeri.
Baca: Bona, Pemuda yang Viral Karena Kejar Jokowi Saat Touring, Diundang ke Istana
Tak hanya itu, makam Sunan Ampel yang terletak di sebelah barat masjid juga tak luput dari para peziarah.
“Kawasan ini setiap harinya pasti ada pengunjung atau peziarah yang datang ke sini. Kalau bulan Ramadan terlihat agak sepi, tapi nanti ketika tanggal ganjil di 10 hari terkahir, Masjid Agung ini akan lebih ramai. Orang-orang banyak yang I’tikaf di masjid hingga seharian penuh. Bahkan ada yang menginap di sini,” kata Hidayat, petugas yang berjaga di Masjid Agung Sunan Ampel.
Kegiatan tersebut dinamakan tradisi 'maleman'. Dalam tradisi itu, para pengunjung membaca tahlil, tadarus, solat sunah, dan iktikaf semalam suntuk.
Tradisi ini banyak diikuti oleh para pengunjung, terutama di tanggal ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan.
Masjid ini didirikan pada tahun 1421 oleh Sunan Ampel. Selain untuk beribadah, dulu Sunan yang bernama asli Sayyid Muhammad Ali Rahmatullah itu juga menggunakan masjid ini untuk tempat berkumpul para ulama membahas penyebaran Islam di Jawa kala Kerajaan Majapahit masih berkuasa.
Arsitektur masjid berpintu 48 ini kental gaya Jawa kuno. Tak ada kubah, atapnya bersusun tiga.
Baca: Kapolri Sarankan Masyarakat Pindahkan Jadwal Mudik Jika Terjadi Kemacetan Arus Lalu Lintas
Seperti bangunan pendopo, masjid ini ditopang oleh pilar-pilar yang jumlahnya enam belas. Tiang-tiang itu berdiameter 60 sentimeter, panjangnya 17 meter, jumlah yang sama dengan rakaat salat lima waktu.
Masjid yang menjadi cagar budaya ini masih terawat. Sebuah menara yang dibuat pada abad ke-14 juga masih terlihat gagah menjulang di halaman.
Setidaknya, masjid ini sudah tiga kali direnovasi, yaitu pada tahun 1926, 1954, dan 1972. Kini, luas masjid ini sekitar 1.320 meter persegi, panjangnya 120 meter dan lebar 11 meter.
Sebelum sampai ke Masjid Agung Sunan Ampel, para pengunjung terlebih dulu melewati toko-toko yang menjual perlengkapan solat seperti sarung, baju koko, peci, tasbih, hingga minyak wangi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/masjid-agung-sunan-ampel-surabaya_20180606_131237.jpg)