Breaking News:

Tradisi Terbangkan Balon Udara Dinilai Bisa Rusak Citra Indonesia di Mata Penerbangan Internasional

Sampai saat ini pihak penerbangan internasional belum ada yang memberikan laporan terkait gangguan balon udara.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
Ketua Ikatan Pilot Indonesia, Kapten Ari Sapari, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu (17/6/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Ketua Ikatan Pilot Indonesia (IPI), Kapten Ari Sapari menyebut tradisi Lebaran menerbangkan balon udara di beberapa wilayah di Jawa Tengah, bisa berdampak buruk terhadap citra dunia penerbangan nasional.

Pasalnya, peristiwa balon udara itu bisa membuat pihak internasional akan berpikir kembali soal keamanan penerbangan di Indonesia.

"Kalau sampai penerbangan internasional lihat balon itu, sangat bahaya. Standard safety dari penerbangan Indonesia bisa dipertanyakan kembali oleh Internasional," ujarnya kepada TribunJakarta.com, di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (17/6/2018).

Baca: Rutin Tiap Lebaran Ke Setu Babakan, Ini 2 Cerita Pengunjung Asal Ibukota

Sampai saat ini pihak penerbangan internasional belum ada yang memberikan laporan terkait gangguan balon udara.

Menurut Ari, hal itu karena wilayah Jawa Tengah yang mengadakan acara menerbangkan balon udara itu jarang dilewati rute penerbangan internasional.

"Memang sejauh ini belum ada laporan dari penerbangan internasional. Karena rute yang internasional jarang yang melewati rute tersebut, kebanyakan rute domestik," lanjut ujarnya.

Baca: Wanita Tewas Ditelan Ular Piton di Sulawesi: Pamit ke Kebun Sampai Duka di Hari Raya Idul Fitri

Diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, tradisi balon menerbangkan balon udara ini dianggap sangat berbahaya bagi penerbangan pesawat.

Ketinggian balon udara yang mencapai 38.000 kaki dan diameter balon yang mencapai 5x7 sangat berpotensi merusak mesin pesawat jika tersedot baling-baling.

Pada musim lebaran tahun ini, gangguan akibat tradisi menerbangkan balon udara sudah berlangsung sejak tanggal 14 Juni 2018, dan masih ada yang menerbangkannya hingga hari ini.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved