Barang Loak Berserakan di Pinggir Rel Kawasan Tanjung Priok Ternyata Ada Pemiliknya

Ali mengaku mendapat teguran dari pihak pengelola rel kereta api lantaran meletakan barang dagangannya di lokasi tersebut.

Barang Loak Berserakan di Pinggir Rel Kawasan Tanjung Priok Ternyata Ada Pemiliknya
TRIBUNJAKARTA.COM/RAFDI GHUFRAN BUSTOMI
Sejumalah barang-barang tidak terpakai yang diletakan di tepian rel kereta kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara Kamis (12/7/2018) 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Rafdi Ghufran

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Etalase, lemari bekas dan barang-barang tidak terpakai lainnya dibiarkan di tepian rel di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Barang-barang tersebut rupanya adalah dagangan milik Ali (41), pengusaha barang loak yang ada di sekitaran rel kereta tersebut.

Dirinya mengaku terpaksa menaruh dagangannya di pinggiran rel lantaran lahan yang sudah terlalu penuh oleh barang-barang loaknya.

Meski begitu dia menaruh barangnya dengan penuh perhitungan, agar tidak terjadi peristiwa tak diinginkan akibat dagangannya.

"Soalnya sempit, makanya ditaruh disitu, tapi ngga pernah ada kejadian apa-apa sih," kata Ali Kamis (12/7/2018).

Ali mengaku mendapat teguran dari pihak pengelola rel kereta api lantaran meletakan barang dagangannya di lokasi tersebut.

Dirinya diimbau agar tidak menaruh barangnya terlalu dekat dengan rel, lantaran dikhawatirkan berbahaya bagi kereta yang melintas.

"Sering juga ditegur, sama orang kereta, katanya ga boleh terlalu pinggir, takut keserempet kereta," ujarnya kepada TribunJakarta.com.

Ia menuturkan, barang-barang tersebut tidak akan selalu ditempatkan di tepian rel, jika nantinya dagangannya laku barang itu akan kembali diletakan di lapaknya.

"Itu mah bukan barang abadi, kalau laku terus ada tempatnya lagi juga dipindahin," katanya.

Ali sendiri mengaku sudah bertahun-tahun menjalani profesi sebagai penjual dan pembeli barang loak.

Sudah tidak terhitung berapa kali lapaknya digusur oleh pihak berwajib lantaran berada di pinggi rel kereta api.

Meski begitu dirinya tetap kembali mendirikan lapaknya lantaran desakan ekonomi untuk mencari uang.

Penulis: Rafdi Ghufran Bustomi
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved