Penjual Kaos Bola di Kemang Pernah Diborong Rp 30 Juta Satu Hari Saat Piala Dunia 2014

Penjual kaos sejak 10 tahun yang lalu ini, pernah mendapatkan rejeki berlimpah saat menjual jersey di masa Piala Dunia 2014 silam.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Didi selaku penjual jersey di bilangan Kemang Jakarta Selatan. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, MAMPANG PRAPATAN - Jersey serta pernak pernik sepakbola menjadi buruan yang dicari pecinta sepak bola.

Pundi-pundi keuangan penjualnya bahkan bertambah saat musim Piala Dunia tahun ini.

Seperti yang dirasakan Didi seorang penjual jersey sepakbola di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Penjual kaos sejak 10 tahun yang lalu ini, pernah mendapatkan rejeki berlimpah saat menjual jersey di masa Piala Dunia 2014 silam.

"Saya sudah jualan kaos bola sejak 10 tahun silam. Alhamdulilah setiap perhelatan akbar sepakbola selalu banyak yang beli. Seperti Euro atau Piala Dunia," ujarnya saat ditemui TribunJakarta.com di tempatnya berdagang, Minggu (15/7/2018).

Menurutnya stok jersey kedua peserta final yang ia miliki cukup banyak sehingga tak sedikit para pencinta sepakbola yang membeli di kiosnya.

Didi selaku penjual jersey di bilangan Kemang Jakarta Selatan.
Didi selaku penjual jersey di bilangan Kemang Jakarta Selatan. (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

"Yang paling banyak beli di tahun 2014. Pas lagi booming banget antara Jerman dan Argentina. Stok jersey lagi banyak, saat itu sehari bisa dapat Rp 30 juta," katanya.

Namun, pencapaian di tahun 2014 silam itu sepertinya tak mampu terulang di tahun ini lantaran ketidaksiapan produsen dalam menyediakan jersey para peserta di babak final Piala Dunia 2018 khususnya Timnas Kroasia.

Pasalnya, Timnas Kroasia merupakan tim kuda hitam yang mampu membuat para pencinta sepakbola tercengang dengan mampu menembus babak final.

"Karena ketidaksiapan produsen membuat seragam timnas Kroasia. Karena awalnya kan Kroasia tim kuda hitam jadi enggak di stock banyak sama produsen. Malah ternyata peminatnya melonjak pas Kroasia mampu menembus final," katanya.

Bahkan, harga jersey Timnas Kroasia terakhirnya pun secara mendadak melonjak naik.

"Kita cuma dapat dikit jersey Kroasianya. Padahal awal kita jual 150 ribu lama lama makin naik 250 ribu, 600 ribu sampai 1 juta kita jual jerseynya karena saking langkanya. Yang seragam udah habis, mau nyari dimana mana udah engga ada," ujarnya.

Para pembeli pun beralih membeli kaos dan pernak pernik timnas Kroasia.

"Jadinya mereka beralih nyari kaos trainingnya, benderanya, sama kaos polonya. Tapi alhamdulilah kaos bertuliskan pemain Modric laku keras," katanya.

Meski keuntungannya tak mampu menembus rekornya di tahun 2014, Didi berharap setidaknya ia tetap bisa meraup pundi pundi pendapatan yang sepadan dengan yang dijualnya sekarang.

"Kalau ini sebenarnya belum kelihatan dapetnya berapa. Nanti pas tertinggi sesudah babak final. Ya semoga bisa dapat 20an juta," katanya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved