Sekilas Kisah Bambang Kepala Stasiun Kereta Api Universitas Pancasila
Selama bertahun tahun bergelut di dunia perkeretaapian, dirinya memiliki sekelumit cerita yang ia masih kenang hingga kini.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Kurniawati Hasjanah
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Sosok Bambang Mudiyono (47) telah berkecimpung di dunia perkeretaapian hingga membawanya kini sebagai Kepala Stasiun Kereta Api.
Berawal dari keinginannya ingin bekerja dengan jenjang karier yang cerah, ia sempat mencoba berbagai pekerjaan hingga meneguhkan tekadnya menjadi seorang pegawai kereta api pemerintah.
"Sebelum saya bekerja di PT KAI, saya pernah malang melintang di berbagai pekerjaan. Tahun 90an dimulai sebagai sales hingga interviewer di sebuah perusahaan dan layaknya anak muda pernah nganggur juga. Kemudian kan anak muda ingin masa depannya terus berkelanjutan. Akhirnya saya melamar pegawai kereta api, alhamdulilah lulus," terangnya kepada TribunJakarta.com, Senin (30/7/2018) di Stasiun Universitas Pancasila.
Buah tak jauh dari pohonnya jatuh, begitupun dengan Bambang.
Mencontoh jejak karier ayahnya di bidang perkeretaapian, ia memutuskan untuk bekerja disana.
"Kebetulan ayah saya waktu itu pernah bekerja jadi pegawai kereta api, tapi sudah lama. Tahun 93 ada lowongan bergabung di PT KAI, saya ikuti. Akhirnya saya masuk dan lolos,"terangnya.
• Meisya Siregar Mengaku Nyesek Usai Nonton Si Doel The Movie
Akan tetapi, bukan berarti karier Bambang berjalan bebas hambatan.
"Disana juga mengikuti pendidikan beberapa bulan, cukup lama juga. Awal saya bekerja ditempatkan sebagai seorang pegawai loket tiket di Stasiun Lenteng Agung. Kemudian menjadi kondektur di lintas Jawa selama 10 bulan. Ngalamin juga jadi petugas pengecek karcis di stasiun Bogor," terangnya.
Tak hanya jabatan yang berganti, tempat dimana ia bekerja juga demikian.
"Saya ditugaskan pernah di Stasiun Bogor cukup lama disana, kemudian di Batu Tulis, Cisaat, Stasiun Lenteng Agung dan Kini Universitas Pancasila. Pertama saya menjabat sebagai Kepala Stasiun ditempatkan di Cisaat. Saat ditempatkan kesana saya suka menginap rumah saya jauh di Depok,"tutur pria dengan dua anak ini.
Selama bertahun tahun bergelut di dunia perkeretaapian, dirinya memiliki sekelumit cerita yang ia masih kenang hingga kini.
"Waktu saya di Bogor, di Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), saya ditugaskan waktu itu untuk mengatur wesel rel (perubah jalur rel), tapi alat weselnya itu kesamber petir. Akhirnya, saya turun langsung ke lapangan untuk memutar dengan alat manual saat hujan lebat," paparnya.
Saat melakukan pemutaran secara manual, kereta api yang disesaki para penumpang terhenti cukup lama.
• Heboh Transfer Dana Miliaran Kepada Caleg Artis, Ini Tanggapan Politisi NasDem Wanda Hamidah
"Hujan sudah reda, kereta api masih berhenti akhirnya penumpang pada turun berjalan menuju stasiun, kemudian mereka mengumpat kearah saya lantaran kereta alami gangguan itu menguji kesabaran," kenangnya seraya tersenyum.
Selain itu, pengalaman lainnya saat dirinya tengah mengumumkan rute perjalanan kereta, para penumpang kembali menanyakan kemana arah kereta.
"Ketika saya umumkan informasi kereta, saya keluar langsung ditanya apa yang saya informasikan. Yaudah saya berprasangka baik menghadapinya," tuturnya.
Walaupun sistem perkeretaapian kini kian membaik, jumlah penumpang pun semakin membeludak.
"Sekarang sudah baik sistem perkeretaapian. Dulu banyak penumpangnya tapi enggak sebanyak sekarang. Keretanya belum sebanyak sekarang. Sekarang sangat sibuk, rangakaian kereta pun banyak dulu paling 8 gerbong saja," ujarnya.
Namun ia menambahkan, kereta api yang tiap pagi dikeluhkan penumpang lantaran penuh sesak harap dimaklumi.
"Kereta api yang penuh sesak itu kan hanya jam jam tertentu saja, jam sibuk saja. Senyaman nyamannya penumpang di kereta saya lihat di Jepang saja ada seorang petugas yang khusus mendorong penumpang berdesakan masuk. Jam sibuk enggak bisa nyaman pasti," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/bambang-mudiyono_20180730_194904.jpg)