Kepala Stasiun Universitas Pancasila Bicara Soal KRL Commuter Line Zaman Old dan Now
Kepala Stasiun Universitas Pancasila, Bambang Mudiyono, membeberkan perbedaan suasana KRL Commuter Line zaman dulu dan zaman now.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Y Gustaman
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Kepala Stasiun Universitas Pancasila, Bambang Mudiyono, membeberkan perbedaan suasana kereta saat dulu dan sekarang.
Menurut dia perkembangan KRL Commuter Line saat ini mengalami kemajuan ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
"Dulu banyak yang gelantungan bahkan ada yang kesamber kena peron. Ada yang patah karena desak-desakan," ucap Bambang kepada TribunJakarta.com, Senin (30/7/2018).
"Sekarang kalau pintu enggak tertutup, enggak jalan kereta. Tapi dulu kan terbuka tetep jalan. Keselamatan lebih terjamin," dia menambahkan.
Bambang melanjutkan ceritanya, dulu rangkaian kereta tak sebanyak sekarang.
"Gerbong kereta dulu paling panjang delapan gerbong. Dulu gerbongnya empat rata-rata kereta. Sekarang delapan gerbong paling pendek sementara paling panjang 12 gerbong rangkaian. Kereta tambah, orang tambah," ucap dia.
KRL Commuter Line zaman dulu acapkali ditimpuki bebatuan oleh oknum tak bertanggung jawab.
"Ketika keluar dari Stasiun Citayam, gorden semua di dalam kereta ditutup karena penumpang sudah tahu banyak yang lemparin. Sekarang masih, tapi tidak sesering dulu, berkurang sangat jauh," terang Bambang.
Sementara sarana dan prasarana di dalam kereta pun terbilang lebih baik karena kabin ber-AC, pengamen atau pedagang asongan dilarang di dalam peron, apalagi di kereta.
"Semua penumpang masuk di dalam. Dulu masih banyak pengamen, pedagang asongan. Kalau desak-desakan itu enggak bisa dihindari sampai sekarang. Kereta di negara maju pun juga demikian ketika jam-jam sibuk," tutur dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/suasana-penumpang-krl-di-stasiun-tanjung-barat_20180129_092242.jpg)