Lahir di Pengungsian Ghana, Alphonso Davies Direkrut Bayern Muenchen

Di usianya yang masih berusia 17 tahun, Alphonso Davies direkrut oleh Bayern Muenchen, klub raksasa Jerman.

Tayang:
Penulis: Deodatus Suksmo Pradipto | Editor: ade mayasanto
Christopher Morris/Corbis via Getty Images
Alphonso Davies 

TRIBUNJAKARTA.COM - Alphonso Davies menjadi buah bibir pada musim panas tahun ini.

Di usianya yang masih berusia 17 tahun, pemain tim nasional Kanada ini direkrut oleh Bayern Muenchen, klub raksasa Jerman.

Hal yang menjadi cerita menarik dari Alphonso Davies bukan lagi akan seperti apa masa depannya nanti.

Masa lalu dan latar belakang keluarganya yang justru menarik.

Semuanya berawal dari Buduburam, sebuah kamp pengungsi dari Liberia di Ghana.

Alphonso Davies lahir di kamp tersebut karena orangtuanya mengungsi dari Liberia lantaran perang saudara.

Kehidupan di Liberia saat itu jauh dari kata mudah.

Sulit untuk mendapatkan air bersih dan makanan.

Keluarga Davies juga hidup dalam rasa takut karena perang.

"Sulit untuk hidup karena satu-satunya cara Anda bertahan hidup kadang adalah membawa senjata," tutur Debeah Alphonso, ayah Alphonso Davies, seperti dikutip dari Bundesliga.com.

Debeah dan keluarganya tidak tertarik membawa senjata.

Oleh karena itu mereka memutuskan untuk meninggalkan Liberia.

Mereka kemudian tinggal di kamp pengungsian di Ghana.

Di sana mereka mengajukan diri untuk berimigrasi ke Kanada.

Setelah melalui serangkaian persyaratan, mereka pindah ke Kanada.
Keluarga Davies berimigrasi ke Kanada ketika Alphonso berusia lima tahun.

Mereka kemudian menetap di Edmonton, Alberta.

Debeah dan Victoria, istrinya, bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya.
Alphonso Davies harus membantu dua orangtuanya membantu merawat dua saudara kandungnya ketika Debeah dan Victoria bekerja.

"Alphonso kecil kami. Dia adalah bocah yang punya senyum permanen di wajahnya, selalu menarik. Dia punya bakat alami di olahraga," tutur Melissa Guzzo, guru Alphonso saat kelas enam SD di sekolah Katolik Bunda Theresa.

Guzzo, yang mencium bakat besar Alphonso, kemudian menghubungi Tim Adams.

Adams adalah pendiri Free Footie, sebuah liga sepak bola anak-anak untuk siswa kelas tiga sampai enam.

Free Footie didirikan untuk anak-anak yang tidak bisa membayar uang pendaftaran sekolah sepak bola dan memiliki perlengkapan sepak bola.

Kedok Buronan Terpidana Penyelundupan BBM Terkuak, Kerja Jadi Mualim Kapal 2 Tahun

Tim Adams berhasil melihat bakat besar Alphonso hanya dalam hitungan menit saat Alphonso menyentuh bola.

Adams mengatakan dia sering melihat seorang anak memiliki kemampuan atletis bagus, namun Alphonso memiliki jiwa seorang atlet.

"Dia lebih dari sekadar orang yang menendang bola ke gawang," kata Adams.

Dari situ Adams menghubungi Marco Bossio, seorang pelatih sepak bola lokal untuk datang ke Free Footie.

Bossio menjabat sebagai kepala Akademi Sepak Bola Santo Nicholas.

Adams ingin menunjukkan bakat Alphonso kepada Bossio.

Bossio menilai Alphonso memiliki sesuatu yang spesial.

Alphonso memiliki kaki yang lincah dan pergerakannya saat menguasai bola sangat cepat.

Alphonso Davies kemudian bergabung dengan akademi Bossio.

Di sana dia bertemu Chernoh Fahnbulleh, rekan setimnya yang juga berasal dari Liberia, namun berimigrasi ke Kanada pada 2008.

Sejak itu mereka berteman baik sampai sekarang.

"Waktu itu dia bisa berbahasa Inggris, namun seperti broken English. Kami satu kelas di pelajaran drama," tutur Fahnbulleh kepada The Star Edmonton.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved