Densus 88 Cokok Penjual Bakso Keliling, Total 260 Terduga Teroris Ditangkap

Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri kembali menangkap seorang terduga teroris, AR, di rumah kontrakannya

Editor: ade mayasanto
TRIBUNJOGJA.COM/WAHYU SETIAWAN NUGROHO
Ilustrasi - Seorang anggota inafis menunjuk lokasi kejadian aksi pelumpuhan terduga teroris di Jalan Kaliurang Km 9.5 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri kembali menangkap seorang terduga teroris, AR, di rumah kontrakannya di Perumahan Istana Tegal Besar Cluster Kutai, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Namun penangkapannya terbilang diam-diam.

Warga dan bahkan ketua RT sekalipun tidak mengetahui kapan AR ditangkap.

Ketua RT, Nu Cahyo, baru tahu penangkapan itu setelah ada penggeledahan di rumah AR pada Kamis (2/8/2018) lalu.

"Kami kaget ketika rumahnya digeledah tim Densus 88," ujar Nur Cahyo.

Menurut Cahyo, Tim Densus 88 antiteror menggeledah rumah AR karena diduga terlibat kasus terorisme.

Sejumlah barang disita dari rumah AR seperti laptop, buku catatan, kartu perdana, dan sejumlah barang lainnya. Nur Cahyo mengatakan, AR sehari hari bekerja sebagai penjual bakso keliling.

"Sehari hari dia berjualan bakso keliling pakai motor," kata Nur Cahyo. Namun, bakso itu tidak dibuat AR di rumahnya. Yang bersangkutan tinggal mengambil dan menjual kembali.

"Tidak dibuat di rumah, sudah yang bikin, jadi dia tinggal jual begitu saja," katanya.

Nur Cahyo menambahkan, dalam aktivitas kesehariannya, selama ini AR dikenal sosok yang ramah dan tidak ada yang mencurigakan.

"Kalau ketemu warga ya menyapa, tidak ada yang curiga," katanya. Sementara istri AR sehari hari bekerja sebagai tukang pijat.

"Banyak warga di sini yang sering meminta pijat ke dia." "Pelanggannya perempuan, dan biasanya dipanggil kalau memijat," katanya.

Dukun Tua Ini Sembunyikan Hasni Selama 15 Tahun di Gua: Disebut Sebagai Tumbal

Suami dan Istri
Di Sleman, DIY Tim Densus 88 Mabes Polri menggeledah sebuah rumah di Dusun Srimbit Lor RT 05/RW 013 Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

"Tadi ada yang datang ke sini sekitar jam 11.30 WIB. Mereka menyampaikan kalau dari Mabes Polri," ujar Ketua RT 05 Wardiyana.

Wardiyana mengatakan, anggota Densus 88 dari Mabes Polri datang untuk menggeledah rumah AF, salah satu warga di Dusun Srimbit Lor.

Dia diminta untuk menjadi saksi penggeledahan.

"Saya diminta menjadi saksi, tadi dengan Pak Dukuh," ungkapnya.

Menurut dia, saat penggeledahan, jalan menuju rumah AF sempat ditutup.

Penggeledahan di rumah AF berlangsung kurang lebih 30 menit. Sementara itu, Kapolda DIY Brigjen Pol. Ahmad Dofiri menyampaikan, belum menerima informasi lengkap mengenai penggeledahan rumah di Dusun Srimbit Lor RT 05/RW 013 Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.

"Belum, baru ini tadi ya, nanti ya," tuturnya.

Di Blitar, Jawa Timur Densus 88 juga menangkap tiga orang terkait jaringan terorisme.

Tiga warga Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar itu diamankan pada Jumat (3/8/2018) sekitar pukul 18.00 WIB.

Kapolres Blitar AKBP Annisullah M Ridha membenarkan perihal penangkapan tersebut.

"Iya memang benar. Kami dikabari itu kemarin sekitar pukul 18.00 wib. Tapi lebih jelasnya ke polda saja. Bukan kewenangan saya untuk menjelaskan operasi densus di sini,"kata Annis.

BNPB: 700 Wisatawan di 3 Gili Belum Dievakuasi

Sebelumnya, sebanyak lima warga Blitar juga telah diamankan Densus 88 pada pertengahan Juni lalu.

Mereka terduga teroris yang masuk dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jatim.
Penangkapan di Tegal

Tim Densus 88 Antiteror Polri juga melakukan penangkapan di kota dan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Selain Yoni Wahyudi (36) yang ditangkap pertama, Densus 88 juga menangkap tiga orang lainnya.
Mereka bertiga di antaranya ialah, Cahyo Harjono (34) yang merupakan adik Yoni Wahyudi, warga Desa Semedo, Kedungbanteng, Kabupaten Tegal.

Lalu, Muhammad Mukti (32), warga Kertasari, Adiwerna Kabupaten Tegal.

Kemudian mantan pegawai Yoni yakni Muhammad Yusuf (34) warga Bandasari, Dukuhturi, Kabupaten Tegal.

Gempa di Lombok, Apa Benar Bisa Membuat Rotasi Bumi Melambat?

Pertama, Yoni ditangkap tak jauh dari lokasi toko optik miliknya di Pasar Kemantran, Kramat, Kabupaten Tegal.

Selanjutnya, ketiganya ditangkap tidak berselang lama setelah penangkapan Yoni Wahyudi.

Cahyo Harjono dan Muhammad Mukti ditangkap saat berada di masing masing toko Optik Optimal yang dimiliki Yoni.

Cahyo ditangkap di Jalan Raya Kemantran, Kramat, Kabupaten Tegal.

Lalu, Mukti ditangkap saat berada di toko satunya lagi di Jalan Teuku Umar, Debong Tengah, Tegal Selatan, Kota Tegal.

Sedangkan untuk Muhammad Yusuf ditangkap di tempat kontrakan di desa Bandasari, Dukuhturi, Kabupaten Tegal.

Ketiganya merupakan rekan Yoni Wahyudi dalam usaha berjualan kacamata.

Dari penggeledahan di rumah Yoni Wahyudi dan dua optik miliknya, tim Densus 88 menyita sejumlah barang bukti, yakni 1 tas ransel, 1 Koper pakaian, 2 Handphone Iphone dan Xiaomi, 1 buah gunting serta daftar harga jual lensa kacamata.

Ibu Histeris
Sementara itu di Semarang, Jawa Tengah Ketua RT 6 RW 5 Kelurahan Manyaran Kota Semarang, Ahmad Nurhadi (58) membenarkan bahwa, Sabtu (4/8/2018) sore, aparat kepolisian meminta izin untuk menggeledah seorang warganya yang ditangkap karena diduga sebagai teroris.

Bahkan dirinya turut menjadi saksi penyitaan barang bukti yang dilakukan polisi tersebut berupa buku dan telepon genggam pada giat sekitar pukul 15.30 WIB.

Seorang tetangga Angga, mengaku tengah tidur dan akhirnya terbangun saat ada ramai ramai polisi di sepanjang jalan depan rumahnya.

"Kejadiannya sore sekitar pukul 15.30 WIB, saat itu juga beberapa warga mulai mendekat dan mengerumun, bertanya tanya ada apa kok banyak polisi," tuturnya.

Selanjutnya ibu dan saudara dari terduga teroris yang tinggal masih dalam satu kelurahan, turut datang.

Akan tetapi tidak dengan bapak dari terduga teroris tersebut.

"Nah selepas tahu bahwa anaknya diamankan, ibunya tersebut berteriak histeris sambil nangis seperti tidak percaya. Jadi menarik perhatian warga, bahkan warga kampung belakang juga penasaran," tambahnya.

Ahmad menjelaskan ibu dari terduga teroris tersebut bahkan sempat pingsan tidak sadarkan diri.
Jika penggeledahan dilakukan sore, untuk penangkapan Angga dijelaskan Ahmad dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB di jalan.

"Pas saya diminta menemani menjadi saksi saat penggeledahan, ada keterangan bahwa yang bersangkutan sudah diamankan pagi harinya di jalan," jelas Ahmad Nurhadi.

Densus 88 Antiteror Polri juga membekuk seorang terduga teroris, Sabtu (4/8/2018) pagi di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

Lelaki berinisial TD (28) ditangkap tak jauh dari kediamannya.

TD tinggal mengontrak di sebuah perumahan daerah Gunung Sindur bersama istri dan dua anaknya.
Menurut Ketua RT setempat, Ali Makmur Siregar, TD ditangkap sekira pukul 09.00 WIB saat bergegas keluar rumahnya menggunakan motor.

"Ditangkapnya di jalan raya, bukan di rumahnya, kemudian anak dan istrinya ikut diamankan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa, saat penangkapan, sejumlah petugas pun langsung melakukan penggeledahan di kediaman TD.

Saat itu, petugas menemukan sejumlah buku bacaan, flashdisk, uang tunai pecahan Rp 100 ribu dan Rp 5 ribu senilai Rp 5 juta.

"Ada juga dollar sepuluh lembar, kemudian paspor, laptop turut diamankan petugas," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa TD sendiri telah tinggal di perumahan tersebut sejak Bulan Januari 2018 kemarin.

Istri John Legend Panik Gempa Lombok Terasa Hingga ke Bali: Begitu Banyak Gempa Susulan

Sebelumnya tidak ada aktivitas yang mencurigakan yang dilakukan TD selama tinggal mengontrak di perumahan tersebut.

"Orangnya jarang keluar, warga pun jadi tidak tahu apa apa, sekarang rumahnya kosong," katanya.
Total 260 Orang Ditangkap

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkap jika jajarannya telah mengamankan 260 terduga teroris pasca teror bom di Surabaya.

Penangkapan dilakukan di berbagai wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.
Penanganan terhadap terorisme, kata Tito, memang menjadi fokus utama Korps Bhayangkara. Terutama, menjelang agenda Asian Games 2018.

"Masalah terorisme kita sudah tangani tangkap sudah lebih dari 260 an, tapi tidak perlu terlalu ekspos," ujar Tito.

Kini, para terduga teroris tersebut dititipkan di kantor kepolisian wilayah tempat mereka ditangkap, yakni Polres dan Polda.

Jenderal bintang empat itu juga mengatakan sekira 170 diantara semua terduga teroris itu telah menjadi tersangka.

Namun, Tito tak mengungkap ada atau tidaknya terduga teroris yang sudah dibebaskan dari penangkapan tersebut.

"Ada 200 an iya (terduga teroris), 170 an yang tersangka," ucapnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved