Belum Genap Satu Bulan, Polisi Ciduk 38 Bandar dan Pemakai Narkoba di Depok

Selama bulan Agustus tahun 2018 Sat Resnarkoba Polresta Depok telah menetapkan 38 tersangka dalam kasus penyalahgunaan narkotika.

Belum Genap Satu Bulan, Polisi Ciduk 38 Bandar dan Pemakai Narkoba di Depok
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kasat Resnarkoba Polresta Depok Kompol Indra Tarigan saat ditemui wartawan di Pancoran Mas, Depok, Senin (20/8/2018). TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA  

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Selama bulan Agustus tahun 2018 Sat Resnarkoba Polresta Depok telah menetapkan 38 tersangka dalam kasus penyalahgunaan narkotika.

Kasat Resnarkoba Polresta Depok Kompol Indra Tarigan mengatakan jumlah tersebut masih dapat terus bertambah mengingat bulan Agustus belum usai.

"Sampai tanggal 20 Agustus ini Sat Resnarkoba Polresta Depok telah menangani 33 LP dengan tersangka sebanyak 38. Kebanyakan kasusnya itu sabu," kata Tarigan di Pancoran Mas, Depok, Senin (20/8/2018).

Dari 38 tersangka, lebih dari setengahnya merupakan bandar sabu yang belum genap satu tahun menjadi pengedar.

Meski terbilang pemain baru, Tarigan menyebut kebanyakan di antara mereka telah menjadi pengedar selama dua hingga tiga bulan.

Mereka berhasil ditangkap setelah anggota Sat Resnarkoba Polresta Depok menyamar menjadi pembeli dan mengajak bertransaksi.

"Sebagian besar dari mereka ini penjual, tapi jumlahnya kecil. Kalau penangkapan itu kebanyakan anggota menyamar, jadi undercover. Begitu kita punya kontaknya dia kita pantau, nanti baru diajak bertransaksi sama anggota yang menyamar," ujarnya.

Terkait wilayah Depok yang rawan peredaran narkoba, Tarigan menuturkan bila Kecamatan Pancoran Mas dan Sawangan merupakan zona merah peredaran narkoba di Depok.

Hal ini berdasarkan jumlah tangkapan pengedar dan pemakai narkoba oleh Sat Resnarkoba dan Polsek-Polsek di Depok selama dua bulan terakhir.

Mantan Kapolsek Senen ini menjelaskan bila jenis narkoba yang paling banyak beredar di Depok merupakan sabu.

Karena harga sabu yang mahal, kebanyakan pengedar menyadar pemuda berusia 21 hingga 24 tahun.

"Sabu ini kan harganya mahal, jadi pengedarnya ini menyasar anak muda. Kebanyakan umur 21 sampai 24 tahun. Makannya peredaran narkoba sangat membahayakan, karena targetnya itu anak muda," tuturnya.

Penuhi Keinginan Bocah Pemanjat Tiang Bendera, Via Vallen Temukan Kesamaan dengan Joni

Sutopo Purwo Nugroho Harus Jalani Kemoterapi ke-4 di RSPAD: Mohon Doanya

Anjuran Sebelum Tunaikan Salat Idul Adha: Jangan Makan dan Minum Terlebih Dulu, Simak Penjelasannya

Batal Menikah dengan Mantan Model, Atta Halilintar Pamer Pacar Baru

Penulis: Bima Putra
Editor: Ilusi Insiroh
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved