Bantah Isu TKA di Era Jokowi, Abu Janda Kena Semprot Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet menyebut dirinya masih percaya ucapan Rocky Gerung bahwa pusat hoaks itu ada di kekuasaan.

Penulis: Kurniawati Hasjanah | Editor: Y Gustaman
YouTube/Indonesia Lawyers Club
Abu Janda - Ratna Sarumpaet 

TRIBUNJAKARTA.COM - Aktivis Ratna Sarumpaet menanggapi komentar Permadi Arya atau Abu Janda yang membantah isu tenaga kerja asing di era Presiden Jokowi.

Isu TKA sudah menghangat menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017.

Di tahun politik isu ini kembali menghangat.

Abu Janda membantah berbagai isu yang menghakimi Jokowi dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (21/8/2018) malam.

Satu di antara isu tersebut adalah tenaga kerja asing yang dikabarkan banyak di Indonesia.

Isu tersebut dibantah Abu Janda dan disebut sebagai hoaks.

Ratna Sarumpaet akhirnya menanggapi bantahan Abu Janda tersebut.

"Kan dari tadi dia (Abu Janda, red) bilang hoaks, hoaks. Aku orang yang masih percaya ucapan Rocky Gerung bahwa pusat hoaks itu ada di kekuasaan," ujar Ratna Sarumpaet.

"Kalau mau tanya buktinya mana? Yah itu janji-janji Presiden sederet itu bukan hoaks dan itu ada dampaknya," sambung dia.

Ratna menilai tenaga kerja asing meresahkan masyarakat.

Sederet Ucapan Selamat Idul Adha Cocok Dibagikan untuk Keluarga dan Kerabat

Banyak Sindiran Aksi Naik Moge Pakai Stuntman, Wishnutama Ungkap Sosok Jokowi Sebenarnya

"Aku enggak menyalahkan orang membela. Anda sudah menganggap di blok itu dan menganggap itu benar. Tetapi tetaplah jadi orang yang kritis. Jangan dengan mencaci orang, kamu menganggap dirimu kritis, itu bagian dari kurang ajar," kata Ratna Sarumpaet.

"Ada fakta di depan mata kamu lihat memang kamu tidak pernah lihat orang kesusahan di pasar? Kamu ngomong soal TKA, kamu turun tidak? Kamu lihat enggak ke pabrik? Kamu pergi enggak ke tambang nikel? Kamu cuma mendengar ucapan menteri. Menteri dari Presiden yang salah menurut gue," lanjut dia.

Ratna Sarumpaet menjelaskan kita tak perlu menyalahkan media sosial, yang perlu disalahkan adalah Negara.

"Karena dia menimbulkan keresahan, media dibungkam bahkan disuruh mendukung dia. Sekarang kita lihat sendiri karakter media kita, apa masih ada semangat untuk investigasi? Itu sedikit sekali, kita enggak tahu kebenaran, enggak ada orang yang mencari kebenaran. Rakyat mencoba mencari kebenaran dan melampiaskannya di Twitter, lalu diserbu oleh buzzer," beber Ratna Sarumpaet.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved