Sudah Inkrah Sejak 1994, Pengosongan Lahan Baru Dieksekusi Sekarang, Ini Alasannya

"Karena mereka itu pinjam, malah ada skema beli dari pengurus YPMII, mungkin tahun 82 - 83," ujar Encep.

Sudah Inkrah Sejak 1994, Pengosongan Lahan Baru Dieksekusi Sekarang, Ini Alasannya
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Kepala Kabag Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Encep Dimyati, di kantornya, Jalan Juanda Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (28/8/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPUTAT - Pihak Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengeksekusi pengosongan lahan yang berada di RT 04 RW 02 Jalan Juanda, Cempaka Putih, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa (28/8/2018).

Kepala Bagian Umum UIN Jakarta, Encep Dimyati, menjelaskan dasar eksekusi lahan tersebut yang merupakan tanah milik Kementerian Agama, dalam hal ini, UIN Jakarta.

Pada sekira tahun 1982 - 1983, tanah seluas 1,1 hektare itu diperjualbelikan oleh oknum pihak Yayasan Pendidikan Madrasah Islam Indonesia (YPMII), yang masih di bawah Kementerian Agama.

Oknum tersebut bernama Syarif Sudiro, Sekretaris YPMII yang menjual tanah itu dengan sistem hibah.

"Karena mereka itu pinjam, malah ada skema beli dari pengurus YPMII, mungkin tahun 82 - 83," ujar Encep.

Penjualbelian ilegal karena tanah negara tak dapat diperjualbelikan itu pun membuat Syarif Sudiro dipenjara, dan meninggal di sana.

Putusan tentang lahan tersebut yang berbunyi pengembalian lahan kepada pihak Kementerian Agama (Kemenag) dalam hal ini UIN Jakarta pun sudah inkrah di tingkat Mahkamah Agung sejak tahun 1994.

Encep mengatakan eksekusi lahan baru dilakukan setelah 24 tahun itu karena hari ini UIN Jakarta membutuhkan lahan untuk membangun ruang kelas.

Ia mengatakan masyarakat yang meminati UIN Jakarta mebcapai 118 ribu orang, namun saat ini kelas yang ada hanya mampu mengakomodir 7000 mahasiswa saja.

Eksekusi lahan ini dimaksudkan untuk membangun kelas baru demi memenuhi peminatan masyarakat.

"Kita sudah kehabisan kelas, masyarakat di sini minatnya sampai 118.000, kita mau terima semua, mau ditaruh di mana kelasnya," ujarnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved