Kritik Utang Indonesia, Prabowo Subianto: Tiap Hari Naik Rp 1 Triliun

Bakal calon presiden Prabowo Subianto kembali mengkritik perekonomian Indonesia. Dia menyinggung utang RI tiap hari naik Rp 1 triliun.

Kritik Utang Indonesia, Prabowo Subianto: Tiap Hari Naik Rp 1 Triliun
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
ILUSTRASI - Long march Prabowo-Sandi dari Masjid Sunda Kelapa ke KPU, Jumat (10/8/2018). 

"Rp 400 triliun di 2018 itu setara 7 kali dana desa, 6 kali anggaran kesehatan. Itu sudah di luar batas kewajaran dan batas negara untuk membayar," kata Zulkifli.

Pada akhir Juli 2018 lalu Kementerian Keuangan merilis jumlah utang negara tercatat mencapai Rp 4.253 triliun atau tumbuh 12,51 persen dibandingkan 2017.

Jumlah tersebut terdiri dari total pinjaman sebanyak Rp 785,49 triliun, dan penerbitan SBN sebesar Rp 3.467,5 triliun.

Rupiah Loyo
Mata uang rupiah kembali melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), kini nilai tukar rupiah menembus angka Rp 14.800.

Menyikapi hal tersebut, bakal calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengajak masyarakat untuk menggunakan produk-produk dalam negeri guna menggerakan perekonomian negara.

"Saya ingin pesan, ini agak serius. Saya ingin mengajak elemen bangsa mulai hari ini, mulai dari hal kecil, yang simpel saja seperti menggunakan produk dalam negeri," ucapnya kepada awak media, Sabtu (1/9/2018).

"Fokus pada barang-barang yang bisa menciptakan lapangan kerja dan menggerakan perekonomian bangsa," tambahnya.

Perjuangan Defia Rosmaniar Raih Emas Pertama: Dapat Nilai E Saat Kuliah hingga Bisikan Jokowi

KPK Siap Buktikan Adanya Aliran Suap Proyek PLTU Riau-1 ke Munaslub Golkar

Sandi juga mengingatkan kepada masyarakat, bila rupiah terus melemah nantinya akan berpengaruh terhadap peningkatan sejumlah kebutuhan pokok.

"Kita harus waspada, bila dollar menguat dan rupiah terus terpuruk. Nanti akan mengancam sendi perekonomian kita, bahan kebutuhan pokok meningkat tajam harganya," ujarnya di Kampus Uhamka, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Menurutnya, saat ini seluruh elemen bangsa terlalu fokus terhadap dunia politik untuk menyambut pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang sehingga sektor ekonomi mengalami keterpurukan.

Halaman
1234
Editor: ade mayasanto
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved