Masuk 150 Orang Terkaya di Indonesia, Sandiaga Dapat Oleh-oleh Tempe Tak Setipis Kartu ATM

Sandiaga Uno, orang terkaya ke-85 di Indonesia ini tak kebal kuping ketika dikritik menyusul ucapannya soal tempe setipis kartu ATM.

Masuk 150 Orang Terkaya di Indonesia, Sandiaga Dapat Oleh-oleh Tempe Tak Setipis Kartu ATM
TRIBUNJAKARTA.COM/NOVIAN ARDIANSYAH
Bakal Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat memotong ramnut di Pemangkas Rambut Kotang, Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, Selasa (11/9/2018). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Tepatnya pada Juni 2018, GlobeAsia membuat cover story ihwal 150 orang terkaya di Indonesia dan satu di antaranya adalah Sandiaga Uno yang berada di urutan ke-85.

Tiga bulan kemudian, calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto ini mengungkit bentuk tempe setipis kartu ATM karena harga kedelai impor terdampak dollar AS yang perkasa atas rupiah.

Belakangan, pemilik kekayaan 300 juta dollar AS pada 2018 menurut GlobeAsia ini mengundang banyak orang berkomentar, tak sedikit yang mengkritiknya keras seperti politikus PSI Guntur Romli dan sastrawan Goenawan Mohamad.

Sedikit informasi, masih menurut laporan GlobeAsia, kekayaan Sandi tahun ini menurun. Tahun lalu kekayaannya di angka 500 juta dollar AS, tak dijelaskan alasan penurunannya.

Sandiaga Uno berada di urutan ke-85 orang terkaya di Indonesia versi GlobeAsia.
Sandiaga Uno berada di urutan ke-85 orang terkaya di Indonesia versi GlobeAsia. (Tangkapan Layar Globe Asia)

Sandi tak tahan kuping mendengar olokan yang mengarah kepadanya terkait ucapannya menyoal tempe setipis kartu ATM.

"Do not be overdramatic atau melodramatic terhadap isu. Harga-harga masih akan naik. semua juga sudah mengakui. Jangan juga denial gitu lho. Kita accept-lah. Jangan saling menjatuhkan. Cari solusinya," ujar Sandi di Glodok, Jakarta Barat, Selasa (11/9/2018).

Ia mendapatkan semua kenyataan itu dari rakyat yang mengadu.

"Kalau misalnya teman-teman itu mengartikannya sebagai suatu jeritan masyarakat, iya. Apakah ini hiperbolisme? Mungkin iya. Tapi menurut saya itu yang disampaikan masyarakat dan kita enggak boleh mendiskreditkan, mem-bully," Sandi menambahkan.

Ia menyatakan semestinya publik melihat pernyataannya itu sebagai bentuk nyata kesenjangan yang terjadi di masyarakat.

Apalagi, kata Sandi, saat ini kedelai sebagai bahan baku tempe masih impor. Dengan nilai tukar rupiah yang masih lemah, ia meyakini harga tempe akan naik.

Halaman
1234
Penulis: yogi gustaman
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved