Pilpres 2019

Kubu Prabowo Usul Debat Bahasa Inggris: Sandiaga Pilih Bahasa Indonesia, Tim Jokowi Ajak Lomba Ngaji

Usulan kubu Prabowo-Sandiaga Uno agar debat kampanye Pilpres 2019 menggunakan Bahasa Inggris menimbulkan pro dan kontra.

Kubu Prabowo Usul Debat Bahasa Inggris: Sandiaga Pilih Bahasa Indonesia, Tim Jokowi Ajak Lomba Ngaji
Inasgoc/Antara Foto/Aditia Noviansyah
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Ketua Umum PB IPSI, Prabowo Subianto (kedua kanan) secara bersama-sama memeluk atlet pencak silat putra Indonesia, Hanifan Yudani Kusuma disaksikan Wapres Jusuf Kalla (kiri) dan Menko PMK Puan Maharani (kanan) di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Rabu (29/8/2018). 

Tidak ada satu aturan pun yang mewajibkan debat menggunakan bahasa Inggris.

Sekjen PKB Abdul Kadir Karding
Sekjen PKB Abdul Kadir Karding (Tribunnews.com/Herudin)

"Karena itu ukuran menurut UU kita. Dan dalam aturan tidak ada mengharuskan debat bahasa Inggris. Itu orang-orang berkampanye dengan satu judul bahwa itu kehabisan bahan," katanya.

Apabila debat dianggap sebagai ajang perlombaan, maka ia mengusulkan agar ada lomba mengaji atau lomba salat antar Capres dan Cawapres.

"Jadi jangan aneh-aneh. Cari yang bermutu. Kampanyekan track record, program, prestasi," katanya.

Partai Golkar juga bereaksi atas usulan tersebut.

"Kita ini mau memilih Presiden Republik Indonesia. Bukan memilih Presiden Amerika Serikat yang memang bahasa nasionalnya bahasa Inggris."

Hal itu ditegaskan Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menanggapi usul koalisi partai politik pengusung bakal capres dan cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar satu sesi debat capres-cawapres dengan menggunakan bahasa Inggris.

"Apakah kita mau memilih Capres Cawapres Inggris atau Amerika Serikat atau Indonesia?" ujar anggota DPR RI ini kepada Tribunnews.com, Jumat (14/9/2018).

Ace menegaskan, debat Capres dan Cawapres bukan seperti lomba pidato bahasa Inggris untuk unjuk gigi kemampuan bahasa.

politisi Golkar Ace Hasan Syadzily usai dilantik sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, di Ruang Rapat Komisi VIII, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018).
politisi Golkar Ace Hasan Syadzily usai dilantik sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, di Ruang Rapat Komisi VIII, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018). (Tribunnews.com/Fitri Wulandari)

Bagi dia, debat Capres-Cawapres itu untuk beradu gagasan, program, visi dan misi yang dapat dimengerti seluruh rakyat Indonesia.

"Tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti, gampang dicerna rakyat, konsep yang ditawarkan dapat diterjemahkan ke dalam program yang dapat dilaksanakan (applicable)," kata Ace.

Selain itu debat Capres-Cawapres itu bukan sekedar pidato berapi-api yang penuh retorika belaka, namun tidak memiliki substansi.

Pun imbuhnya, bukan menebar pesimisme, tapi selalu melahirkan harapan-harapan bagi rakyat dengan program-program yang konkret dan nyata.

"Bukan janji-janji yang ternyata pelaksanaannya tidak dapat dilaksanakan," ucapnya.

Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) angkat bicara terkait usulan debat Pemilu Presiden 2019 menggunakan bahasa Inggris.

Menurut OSO, debat menggunakan bahasa Inggris akan percuma karena tidak semua masyarakat mengerti Bahasa Inggris.

"Rakyat tidak semuanya yang mengerti bahasa Inggris. Bagaimana? You ngomong bahasa Inggris enggak ngerti terus tepok tangan, horee," ujar OSO di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarat, Jumat (14/9/2018).

Menurut OSO debat bukan merupakan ajang pamer, melainkan beradu gagasan dan visi-misi. Oleh karenanya tidak tepat bila debat menggunakan bahasa Inggris.

"Ini soal campaign (kampanye). Campaign itu mau menjatuhkan dan enggak mau menjatuhkan. Tapi kalau menjatuhkan dalam bahasa yang rakyat mengerti bagaimana kalua untuk mau campaign bahasa inggris," katanya.

Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Oesman Sapta Odang.
Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Oesman Sapta Odang. (Harian Warta Kota/henry lopulalan)

Selain itu, menurut OSO akan lucu nantinya bila debat menggunakan bahasa Inggris. Lebih lucu lagi, menurutnya apabila yang menang Pilpres adalah pasangan calon yang tidak terlalu mahir bahasa Inggris.

Cerita Setya Novanto Sejak Dipenjara: Dijauhi Orang Terdekat Hingga Terpaksa Jual Rumah

Bupati Purwakarta Terpilih Hamil 2 Bulan, Siap Dilantik Meski Rok Untuk Pelantikan Menyempit

Usai Ditahan Imbang Barito Putra, Pelatih PSM Diminta Lakukan Rotasi Pemain

Selain itu menurutnya bila debat menggunakan bahasa Inggris maka akan dipertanyakan sikap nasionalismenya.

"Saya kira bukan keliru ya, tapi dimana jiwa nasionalisme anda? Saya keluar negeri pun, saya enggak mau (bicara) bahasa Inggris. bukan enggak mau tapi saya tunjukkan we are Indonesian," pungkasnya. (Tribunnews.com/TribunJakarta.com)

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved