Breaking News:

Ribut-ribut Soal Honor Penari Ratoh Jaroe, Ini Fakta Sebenarnya Versi INASGOC dan Sekolah

Di balik indahnya tari Ratoh Jaroe saat opening ceremony Asian Games, mencuat isu tak sedap soal honor belum diterima penari. Ini fakta sebenarnya.

Penulis: Yogi Gustaman | Editor: Wahyu Aji
Tangkapan layar YouTube Surya Citra Televisi (SCTV)
Tari Ratoh saat opening ceremony Asian Games 2018. 

"Inasgoc sangat berterima kasih kepada para penari, guru, dan orangtua mereka yang telah memberikan kontribusi besar bagi Indonesia. Kerja keras dan penampilan para penari tidak bisa dinilai dengan apa pun," ujar dia.

Ditawari jalan-jalan dan jaket

SMA 23 Jakarta men‎jadi sorotan karena diduga tidak membayar uang honor kepada para siswinya yang menjadi penari Ratoh Jaroe saat pembukaan Asian Games 2018.

Total ada 83 siswi SMA 23 Jakarta yang menjadi penari Ratoh Jaroe saat pembukaan Asian Games 2018 pada 18 Agustus 2018 lalu.

Satu di antara siswi ‎SMA 23 Jakarta berinisial S (16) yang menjadi penari Ratoh Jaroe membenarkan dirinya belum menerima uang atas penampilannya di pembukaan Asian Games.

"Iya memang belum nerima uang sama sekali dari pihak sekolah," ujar S saat ditemui di SMA 23 Jakarta, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Rabu (19/9/2018).

S mengatakan ia dan 82 rekannya yang menjadi penari Ratoh Jaroe sudah berulang kali meminta ‎kejelasan kepada pihak sekolah terkait honor yang mereka terima.

Mereka para penari ditawarkan untuk jalan-jalan dan membuat jaket sebagai kenang-kenangan.

‎"Ditawarinya itu mau jalan-jalan apa beli jaket. Tapi kami itu mintanya uang tunai aja," kata S yang diamini rekannya yang juga penari Ratoh Jaroe.

Tak ada uang honor

TribunJakarta.com mencoba meminta penjelasan kepada pihak sekolah.

Wakil Kesiswaan SMA 23 Jakarta Edi Susilo membantah pihaknya menahan uang honor kepada para siswa penari Ratoh Jaroe.

‎Dikatakan Edi, pihak sekolah baru menerima transferan termin ketiga untuk pembayaran penari Ratuh Jaroe pada Selasa (18/9/2018) malam.

Dikatakannya, uang itu diterima dari pihak Lima Arus selaku Event Organizer yang menghubungkan antara pihak sekolah dengan INASGOC pada malam kemarin.

Wakil Kesiswaan SMA 23 Jakarta Edi Susilo.
Wakil Kesiswaan SMA 23 Jakarta Edi Susilo. (TribunJakarta.com/Elga Hikari Putra)

"Untuk termin yang terakhir itu kita baru terima semalam, saya belum cek berapa jumlah uangnya karena yang tahu bendahara," kata Edi di SMA 23 Jakarta.

Selain itu, Edi ‎menyebut dalam kesepakatan yang ditandatangani pihak sekolah dengan Lima Arus tidak ada sama sekali tertulis uang honor, tapi uang operasional.

"Yang ada itu hanya uang operasional yang sekolah gunakan untuk membiayai seluruh kegiatan siswi saat latihan. Misalnya untuk uang transpor, uang makan, sewa kendaraan itu semua kita yang bayar pakai uang operasional itu. Jadi enggak ada sama sekali namanya uang honor," jelas Edi.

Edi menambahkan rencananya paling lambat pada Jumat (21/9/2018) lusa pihak sekolah akan memberikan sisa uang operasional kepada siswinya.

"Paling lambat itu Jumat kita akan kasih uangnya, tapi tentunya setelah kita potong dengan uang operasional mereka selama latihan di Senayan. Karena uang itu memang uang operasional bukan uang honor," kata Edi.

Uang operasional Rp 200 ribu

Edi Susilo mengaku kaget dengan pemberitaan yang menyebut pihaknya menahan honor para siswi yang menjadi penari Ratoh Jaroe saat pembukaan Asian Games 2018.

Ia pun membantah tudingan tersebut.

Edi menjelaskan, uang operasional yang dijanjikan yakni Rp 200 ribu per penari dalam sekali latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat.

"Memang ada perjanjian kita akan dikirim uang selama tiga kali. Namun di dalam perjanjian itu sama sekali tidak ada kata-kata honor, hanya operasional," tegas dia.

Terhitung sejak Mei 2018 total sebanyak 12 kali siswi SMA 23 Jakarta berlatih di SUGBK plus satu kali tampil saat pembukaan Asian Games.

‎Di sanalah, uang operasional itu digunakan untuk keperluan transportasi, makan dan snack bagi para siswa.

Edi tak merinci berapa jumlah uang yang pihaknya terima dalam sekali kiriman dari pihak Lima Arus.

"Kita 13 kali ‎ke GBK. 12 kali latihan dan 1 kali tampil pas pembukaan. Selama di sana kita semua yang urus keperluan siswi," kata Edi.

"Buat nyewa bus aja sekitar lima juta keluar, kita kan pakai duabus dan itu harus bus yang sesuai standar mereka, enggak bisa bus sembarangan. Belum lagi buat snack dan minum anak-anak. Nah itu semua kita pakai uang operasional," sambung dia.

‎Edi mengatakan tak hanya sekolahnya saja yang belum memberikan sisa uang operasional kepada para penari.

Dikatakannya, 17 SMA lain di Jakarta yang siswinya dipilih menjadi penari Ratoh Jaroe juga belum memberikan sisa uang operasionalnya.

"Jadi bukan cuma di sini aja, di sekolah lain juga belum ada yang kasih sisa uang operasional, saya kan saling komunikasi dengan sekolah-sekolah lain," kata Edi.

"Jadi bagaimana mau ngasih orang kita aja baru dapat semalam. Rencananya paling lambat hari Jumat kita akan berikan ke para siswi," kata Edi.

Uang apresiasi

Sementara itu, Wakil Kesiswaan SMA 78 Jakarta, Zainuddin, dihubungi terpisah mengatakan tak ada uang honor, yang ada uang kompensasi atau apresiasi.

"Istilah (uang, red) honor tidak ada. Yang benar itu kompensasi atau apresiasi dari sekolah menggunakan uang dari INASGOC melalui Lima Arus," kata Zainuddin saat dikonfirmasi, Rabu (19/9/2018).

Zainuddin mengatakan uang dari INASGOC diberikan secara bertahap sebanyak tiga kali.

Untuk termin ketiga, Zainuddin menyebut baru dikirim pada Selasa (18/9/2018). Uang itu digunakan untuk keperluan siswa selama persiapan latihan menari untuk pembukaan Asian Games 2018.

Dikatakannya, dari SMA 78 mengirimkan 80 siswi dan 44 siswa untuk pentas di pembukaan Asian Games 2018.

"Dalam pengelolaan uang itu untuk konsumsi, snack, transportasi. Jadi untuk itulah pelaksanaan kegiatannya uang tersebut," kata Zainuddin.

‎Zainuddin mengakui sempat menawarkan kepada para siswanya agar uang kompensasi dan apresiasi itu tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan ke bentuk barang seperti jaket atau pun tas pinggang.

Dia menganggap hal itu agar lebih memiliki kenangan bagi para siswa ketimbang diberikan uang tunai.

"‎Saya selaku pendidik mengarahkan agar jangan uang agar minimal ada kenangan yang melekat. Itu yang saya arahkan‎," ungkap dia. (TribunJakarta.com/Kompas.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved