KPK Kembali Periksa Dirut PLN Sofyan Basir

Pemeriksaan kali ini, bukanlah pemeriksaan perdana bagi Sofyan Basir. Sebelumnya Sofyan Basir sudah pernah sebanyak dua kali

KPK Kembali Periksa Dirut PLN Sofyan Basir
TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma
Direktur Utama PT PLN Persero Sofyan Basir (tengah), memberikan keterangan pada awak media terkait penggeledahan oleh KPK di kediamannya pada Minggu 15 Juli 2018. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Theresia Felisiani

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Direktur Utama PT PLN Persero Sofyan Basir, Jumat (28/9/2018) pagi sudah tiba di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kehadiran Sofyan untuk memenuhi panggilan dari penyidik sebagai saksi di kasus dugaan korupsi pembangunan PLTU Riau 1.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi wartawan.

Pantauan Tribunnews.com, Sofyan Basir tiba di KPK pukul 10.08 WIB menggunakan kemeja putih. Dia enggan bicara banyak soal pemeriksannya.

"Nanti saja ya, sudah ditunggu penyidik," singkat Sofyan Basir.

Pemeriksaan kali ini, bukanlah pemeriksaan perdana bagi Sofyan Basir. Sebelumnya Sofyan Basir sudah pernah sebanyak dua kali.

Di pemeriksaan yang lalu, Sofyan dikonfirmasi seputar pengetahuannya dalam kasus yang melibatkan pengusaha dan anggota DPR RI.

Viral Seorang Wanita BAB di Gerbong KRL Commuter Line, Kabur Saat Kereta Berhenti

AHY Nilai Soeharto Punya Peran Besar dalam Pembangunan di Indonesia

Jaksa KPK Gugat Tetangganya Sebesar Rp 2,6 Miliar Gara-gara Tebang Pohon, Ini Kronologinya

Tidak hanya itu, Sofyan juga sempat dikonfirmasi terkait temuan barang bukti yang ditemukan dari penggeledahan di rumah dan kantornya.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan tiga tersangka yakni Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo (pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited), ‎dan mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Dari tiga tersangka, hanya Kotjo yang berkasnya sudah masuk tahap penuntutan dan segera disidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. Sementara Eni dan Idrus Marhan masih proses penyidikan di KPK.

Menurut penyidik, Eni diduga menerima suap Rp 4,8 miliar yang merupakan komitmen fee 2,5 persen dari nilai kontrak proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt itu.

Diduga suap diberikan agar proses penandatanganan kerja sama terkait pembangunan PLTU Riau-1 berjalan mulus.

Sedangkan Idrus diduga mengetahui dan menyetujui pemberian suap ke Eni Maulani. Idrus juga dijanjikan 1,5 juta dollar Amerika Serikat oleh Johannes kotjo.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved