G30S PKI

Kisah Para Penyintas G30S 1965: Sulit Dapat Kerja Hingga Batal Menikah Lantaran Dituduh PKI

Suar menjelaskan beberapa penyintas ada yang ditangkap hanya karena menonton pertunjukkan seni ataupun tergabung di kelompok musik.

Kisah Para Penyintas G30S 1965: Sulit Dapat Kerja Hingga Batal Menikah Lantaran Dituduh PKI
Dokumen pribadi Suarbudaya Andi Rahadian
Kegiatan para penyintas G30S 1965 di Gereja Komunitas Anugerah Reformed Baptist. 

Beberapa di antaranya, terang Suar, ada yang mendapatkan kepercayaan diri, mengganti identitas dan pindah ke luar kota.

Para penyintas itu tak jarang juga merekayasa cerita hidupnya agar bisa diterima masyarakat sekitarnya.

"Ada yang mereka mendapatkan kepercayaan diri kembali, dilayani oleh gereja. Di Indonesia ada banyak komunitas gereja yang diam-diam menangani kelompok penyintas 65," terang Suar.

"Ada juga yang pindah kota, pindah tempat tinggal, mengganti identitas sehingga latar belakangnya tidak ketahuan. Supaya tidak terlacak masa lalunya," jelasnya.

"Mereka ada juga yang mengarang cerita hidup baru. Sehingga masyarakat tahunya latar belakangnya apa. Padahal sesungguhnya mereka pernah ditahan karena dikait-kaitkan dengan kasus '65," tambahnya.

Masih ada stigma negatif

Suar, yang juga pengurus forum '65, meyakini stigma negatif masih kerap diberikan kepada para penyintas '65.

Ia bahkan menyebut pemberian stigma negatif era sekarang lebih kuat.

"Stigma kepada penyintas '65 itu semakin kuat hari-hari ini karena ide tentang kebangkitan PKI dihembus-hembuskan," terangnya.

Iapun mengambil contoh pengepungan di kantor LBH Jakarta setahun silam.

Pada saat itu para penyintas 65 berkumpul mengadakan reunian.

Saat reuni diadakan, sekira 1000 orang berkumpul mengepung LBH Jakarta.

"Pertemuan-pertemuan yang sifatnya reuni di antara penyintas '65 itu dituduh sebagai pertemuan yang bersifat politik dan hubungan dengan kebangkitan PKI, sehingga memancing kemarahan masyarakat dan masyarakat yang tidak tahu apa-apa digiring ke isu itu untuk diserbu," papar Suar.

Hal itulah yang menurut Suar, membuat para penyintas masih trauma hingga saat ini.

Para orang tua itu takut untuk berkumpul lagi.

"Karena takut digrebek, takut dituduh macam-macam. Apalagi pasca-peristiwa LBH Jakarta," ungkapnya.

"Jadi saya rasa, orang-orang tua ini pada masa tuanya bukannya mendapatkan rehabilitasi, apalagi perlakuan yang baik, justru malah makin mendapat stigma," tambahnya.

Suar meyakini peristiwa 1965 menyisakan luka yang belum sembuh.

Masyarakat, lanjut Fuad, harus diberikan edukasi terkait peristiwa 1965 itu.

"Jadi jelas, luka itu belum sembuh. Bangsa ini punya PR untuk menyelesaikan problem di masa lalu," ucap Suar.

"Ini perlu upaya membuka kebenaran. Sebenarnya apa yang terjadi tahun 1965-1966 pada generasi muda. Dan hoaks-hoaks kebangkitan PKI itu jelas harus diluruskan oleh media massa. Karena itu memang berpotensi menimbulkan konflik horizontal," tandasnya.

Follow juga:

Penulis: Erlina Fury Santika
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved