Kenaikan Harga BBM

3 Alasan BBM Batal Dinaikan, Timses Jokowi: Ini Contoh ke Depan Jadi Pemimpin Jangan Tipis Telinga

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding, mengatakan Presiden Jokowi tak pernah ragu dalam menetapkan harga BBM.

3 Alasan BBM Batal Dinaikan, Timses Jokowi: Ini Contoh ke Depan Jadi Pemimpin Jangan Tipis Telinga
TribunJakarta.com/Nawir Arsyad Akbar
Warga sedang mengisi bahan bakar di SPBU self service yang terletak di Jalan Pahlawan, Duren Jaya, Kota Bekasi, Minggu (8/4/2018 

TRIBUNJAKARTA.COM - Bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi premium batal naik.

Seperti diketahui bahwa sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan, sempat mengatakan harga BBM jenis Premium akan naik pada pukul 18.00 WIB, Rabu (10/10/2018).

Saat itu, Jonan mengatakan, alasan kenaikan Premium karena harga salah satu acuan minyak dunia, yaitu Brent, sudah lebih di atas 80 dollar AS per barrel.

Selain itu, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) juga mengalami kenaikan yang membuat pemerintah memutuskan perlunya penyesuaian harga.

Kenaikan harga telah terjadi lebih dulu untuk BBM jenis Pertamax dan Dex series serta Biosolar non PSO, yang berlaku hari ini sejak pukul 11.00 WIB. 

"Untuk Jamali (Jawa, Madura, dan Bali) harga per liter jadi Rp 7.000. Sementara di luar Jamali jadi Rp 6.900," kata Menteri ESDM Ignasius Jonan saat ditemui di Sofitel Hotel, Nusa Dua, Rabu (10/10/2018) seperti dikutip dari Kompas.com.

Curhat Driver Ojek Online Keberatan BBM Naik

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Ini Masalah yang Muncul Jika Motor Kamu Sering Gonta-Ganti Bahan Bakar!

Namun hanya berselang hitungan jam, pernyataan Jonan itu dikoreksi oleh anak buahnya. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi, Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, BBM batal naik berdasarkan arahan Presiden Jokowi.

"Iya ditunda, sesuai arahan Pak Presiden (Jokowi) kita evaluasi lagi kenaikan tersebut," kata dia.

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi, Erani Yustika mengatakan, pembatalan tersebut terjadi karena Presiden mendengarkan aspirasi publik.

"Presiden selalu menghendaki adanya kecermatan di dalam mengambil keputusan, termasuk juga menyerap aspirasi publik," kata Erani kepada Kompas.com, Rabu (10/10/2018).

Halaman
12
Penulis: Mohamad Afkar Sarvika
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved