Properti Sedekah Laut di Bantul Dirusak, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

Kasus perusakan lokasi acara sedekah laut di Pantai Baru, Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih diselidiki oleh polres setempat.

Editor: Y Gustaman
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Sejumlah tenda dan kursi sudah siapkan oleh panitia untuk sedekah laut di Pantai Baru, Bantul, Sabtu (13/10/2018). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kasus perusakan lokasi acara sedekah laut di Pantai Baru, Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih diselidiki oleh polres setempat.

Dari sembilan saksi yang diperiksa polisi, enam di antaranya merupakan warga Surakarta, Jawa Tengah.

Polres Bantul masih belum menetapkan tersangka kasus perusakan properti acara sedekah laut yang berlangsung sekira pukul 23.30 WIB, Jumat (12/10/2018) tersebut.

Sembilan orang yang sedang diperiksa polisi masih bersatus saksi.

Kapolres Bantul AKBP Sahat Marisi Hasibuan mengatakan, sembilan orang itu mengaku tidak ikut dalam aksi perusakan di Pantai Baru.

Menurut Kapolres mereka mengaku hanya melihat dan diam ketika aksi anarkis itu terjadi.

"Penetapan tersangka belum, karena penetapan tersangka kan harus ada prosedurnya. Kami masih tetapkan (9 orang itu) jadi saksi, nanti kalau ada bukti yang kuat baru bisa dinaikkan menjadi tersangka," kata Kapolres, Minggu (14/10/2018).

Sahat menceritakan, kesembilan orang yang saat ini masih dalam pemeriksaan pihak kepolisian, tidak diamankan di lokasi kejadian, namun di Kecamatan Kasihan, tepatnya di Tamantirto.

Dari pemeriksaan awal, berdasar kartu tanda penduduk (KTP), enam dari sembilan orang ini berasal dari luar wilayah DIY.

"Jadi setelah kabur, kami selidiki dan mengikuti mereka lalu diamankan di Tamantirto. Pas cek KTP, enam orang berasal dari Surakarta atau Solo," tuturnya.

Hingga saat ini, lanjut Sahat, polisi masih bekerja keras mencari saksi saksi dan rekaman CCTV guna mengungkap kejadian yang sebenarnya.

"Yang jelas, sembilan orang itu masih kami periksa. Kita masih kesulitan mencari saksi dari warga. Ini juga masih cari CCTV," ungkapnya.

Terkait kasus perusakan itu, Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini meminta masyarakat untuk menghormati keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia bukan negara agama tetapi negara beragama yang menghormati keberagamaan.
Indonesia merupakan negara yang majemuk. Ada banyak agama golongan suku dan etnis terkandung di dalamnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved