Dijaga Ketat Oleh Aparat, Begini Kondisi Sidang Perdana Penusukan TNI oleh Oknum Brimob di PN Depok

JPU Kejari Depok, AB. Ramadhan mengatakan ketiga terdakwa itu kooperatif mengikuti jalannya sidang perdana.

Dijaga Ketat Oleh Aparat, Begini Kondisi Sidang Perdana Penusukan TNI oleh Oknum Brimob di PN Depok
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Majelis hakim Pengadilan Negeri Depok saat menyaksikan rekaman CCTV Billiard Al Diablo, Rabu (24/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, SUKMAJAYA - Sidang perdana perkara penusukan anggota TNI oleh tiga oknum Brimob yang terbagi atas tiga perkara terpisah di Pengadilan Negeri (PN) Depok berlangsung tertib hingga akhir.

Sidang yang dimulai sekira pukul 13.37 WIB itu beres sekira pukul 15.37 WIB setelah majelis hakim PN Depok, JPU Kejari Depok, tiga terdakwa, dan saksi menyaksikan rekaman CCTV Billiard Al Diablo.

Pantauan TribunJakarta.com, tiga terdakwa yakni Bagoes Alamsyah Putra Umasugi, Iwan Mofu, dan Rahmat Setyawan berjalan keluar ruang sidang Kartika PN Depok dengan pengawalan aparat polisi dan TNI bersenjata lengkap.

JPU Kejari Depok, AB. Ramadhan mengatakan ketiga terdakwa itu kooperatif mengikuti jalannya sidang perdana.

"Mereka kooperatif, habis ini mereka kembali ke tahanan," singkat Ramadhan saat ditemui wartawan usai sidang di PN Depok, Rabu (24/10/2018).

Mobil minibus tahanan Propam Korps Brimob keluar dari PN Depok pukul 16.05 WIB dikawal mobil Provos Korps Brimob, dan mobil Komando Korps Brimob.

Beberapa menit usai mobil melaju, puluhan personel polisi dan TNI yang berjaga sebelum sidang dimulai meninggalkan area PN Depok.

Dalam sidang tersebut, JPU Kejari Depok menghadirkan empat saksi, dua di antaranya merupakan anggota TNI, sedangkan sisanya merupakan warga sipil.

"Ada empat saksi yang akan kami hadirkam. Dua dari anggota TNI, satu pegawai dari Biliar Al Diablo, dan satu dari pengujung,” ujarnya.

Dua dari empat saksi yang dihadirkan merupakan anggota TNI AD, yakni Pasintel Yonkav 7 Lettu Kav Barus dan Serda Nicoulaus Boyvianus Kegomoi yang juga merupakan korban penusukan.

Sementara saksi lain adalah Petrus Hutabarat yang merupakan karyawan billiard Al Diablo dan Devi Sri Rahayu yang merupakan pengunjung.

Saat memberi kesaksian, Petrus mengatakan tempat kerjanya tak menjajakan minuman keras dan hanya menjajakan soft drink dan sejumlah makanan.

Dia juga mengaku tak mengerti bila penusukan yang menewaskan Darma disebabkan karena masalah minuman keras.

"Enggak jual minuman keras, hanya soft drink. Saya kerja waktu ada ribu-ribut, tapi saya enggak tahu apa sebabnya. Saya cuman dengar suara ribu-ribut dan lihat CCTV," tutur Petrus.

Perihal dakwaan, JPU Kejari Depok Ramadhan dan Kozar Kertyasa menjerat Bagoes Alamsyah Putra Umasugi dan Iwan Mofu dengan dakwaan alternatif subsider.

Kesatu pasal 170 ayat 2 ke-3 KUHP, kedua pasal 170 ayat 2 ke-2 KUHP, atau kedua kesatu dengan Pasal 351 ayat 3 KUHP jo pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP, dan kedua dengan pasal 351 ayat 2 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara untuk dakwaan alternatif yang dikenakan terhadap terdakwa Rahmat Setyawan, kesatu dengan pasal 170 ayat 2 ke-2 KUHP, atau kedua dengan Pasal 351 ayat 2 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sebagai informasi, pertikaian yang menewaskan Serda Darma Aji dan melukai Serda Nicoulaus diduga berawal saat ada oknum anggota Brimob yang menawari mereka miras namun ditolak.

Setelah beberapa saat, pertikaian terjadi hingga akhirnya Darma dan Nicolaus dikeroyok delapan oknum anggota Brimob dan harus menjalani perawatan di RSPAD Gatot Soebroto.

Pengeroyokan terjadi pada Kamis (7/6/2018) dinihari, pada Jumat (8/6/2018) siang, Darma menghembuskan nafas terakhirnya.

Darma tercatat sebagai anggota Yonif Mekanik 203/AK Kodam Jaya, sedangkan Nicoulaus tercatat sebagai anggota Yonkav 7/Sersus Kodam Jaya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved