Trauma Anaknya Tewas Dikeroyok, Orangtua Andika Berencana Pulang Kampung Setelah Pelaku Divonis

Harmiati berencana pindah lantaran tak ingin anak keduanya Wawas Afriyansyah (12) menjadi korban kejahatan jalanan seperti kakaknya

Trauma Anaknya Tewas Dikeroyok, Orangtua Andika Berencana Pulang Kampung Setelah Pelaku Divonis
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kadiran dan Harmiati saat ditemui dikediamannya, Tapos, Depok, Kamis (25/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, TAPOS - Harmiati (42) dan Kadiran (44) berencana pulang ke kampung halamannya di Madiun, Jawa Timur setelah perkara pengeroyokan yang menewaskan anaknya, Andika Saputra (20) beres di Pengadilan.

Harmiati berencana pindah lantaran tak ingin anak keduanya Wawas Afriyansyah (12) menjadi korban kejahatan jalanan seperti kakaknya yang tewas dikeroyok tujuh pelaku pada Minggu (21/10/2018).

"Rencananya kalau ini semua sudah beres mau pulang kampung ke Madiun. Saya takut adiknya kejadian seperti kakaknya, apalagi sekarang dia kelas 1 SMP. Masih usia main banget, takutnya kena yang enggak-enggak," kata Harmiati di Tapos, Depok, Kamis (25/10/2018).

Dia menilai tingkat kriminalitas di Kota besar lebih buruk dibanding wilayah pelosok yang belum banyak tersentuh teknologi seperti Madiun.

Pasalnya Andika tewas dikeroyok bukan karena dia dan teman-temannya hendak tawuran, melainkan diserang secara tiba-tiba saat melintas di Jalan Radar Auri dekat SMPN 7 Depok.

Dia menyayangkan tindakan pelaku yang tega menghabisi nyawa anaknya meski Andika tak dapat berjalan normal karena luka akibat kecelakaan yang terjadi pada Juli 2018 lalu belum pulih.

"Kalau di Kota besar sepertinya tingkat kriminalitas dan pergaulannya lebih buruk. Makannya saya mau pindah, enggak mau adiknya ini pergi keluar malam hari seperti kakaknya," ujarnya.

Harmiati yang masih dirundung duka menuturkan anaknya bukan sosok yang gemar membangkang dan merepotkan orangtuanya.

Semasa hidup, Andika bahkan rela tak sekolah karena tak ingin membebani Kadiran yang berprofesi sebagai buruh bangunan dan Harmiati sebagai buruh cuci.

Dia memilih berhenti usai menamatkan pendidikan di Madrasah dan memilih bekerja serabutan agar Wawas yang kini tercatat sebagai pelajar kelas 1 SMP dapat melanjutkan pendidikan.

"Dia bilang 'Aa enggak usah sekolah biar adik bisa sekolah. Aa enggak iri sama adik'. Memang dari kecil dia mau kerja apa saja untuk bantu orangtua. Mau bantu ekonomi keluarga lah. Saya sendiri kerja jadi buruh material," tuturnya.

Nahas saat hari kejadian dia memilih keluar bersama teman-temannya usai bekerja sebagai tukang parkir di satu warung pecel lele dekat rumahnya.

Harmiati kini hanya berharap pelaku utama yang melarikan diri ke Cirebon segera diringkus polisi dan menjalani proses persidangan.

"Semoga hukumannya setimpal, selasai sidang nanti rencananya saya mau pulang kampung saja. Trauma di sini, sekarang saja saya masih belum kerja lagi," lanjut Harmiati.

Sebagai informasi, Andika ditemukan tergeletak bersimbah darah di dengan luka senjata tajam di perut bawah dan punggung, serta hantaman benda tumpul di Jalan Raya Radar Auri dekat SMPN 7 Depok sekira pukul 02.20 WIB.

Sunendi (50), pemilik Warkop depan lokasi kejadian mengatakan peristiwa terjadi sekira pukul 02.05 WIB saat para pelaku tiba dan berakhir pukul 02.20 WIB saat pelaku melarikan diri.

Beberapa detik sebelum para pelaku meninggalkan lokasi, Sunendi juga mendengar suara untuk menyudahi aksi tawuran yang dilantangkan sejumlah pelaku.

"Ada yang teriak 'Sudah, sudah', habis itu mereka pergi. Mungkin juga sempat saling maki, tapi saya enggak dengar karena mereka enggak matikan sepeda motornya. Knalpot mereka juga berisik banget," ucap Sunendi, Minggu (21/10/2018).

Andika sempat dibawa ke Rumah Sakit Sentra Medika untuk mendapat perawatan medis, nahas nyawanya tak tertolong saat Kadiran dan Harmiati tiba di RS sekira pukul 04.00 WIB.

Andika dimakamkan pada Minggu (21/10/2018) sekira pukul 17.00 WIB di satu tempat pemakaman umum di Jalan Kapitan 1 usai menjalani autopsi di RS Polri Kramat Jati.

"Dimakamin dekat Kapitan 1 sekitar jam 5 sore. Tapi enggak dibawa ke rumah, habis dari RS Polri langsung dibawa ke Masjid untuk disalatkan terus dikubur," lanjut Harmiati.

Penulis: Bima Putra
Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved