Asal Muasal Cawang Kompor Hingga Banyak Perajin yang Berinovasi untuk Bertahan

Kawasan tersebut dikenal sebagai sentra perajin dan penjualan kompor minyak dari masa ke masa.

Asal Muasal Cawang Kompor Hingga Banyak Perajin yang Berinovasi untuk Bertahan
TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI
sejumlah kerajinan yang berasal dsri bahan dasar alumunium terlihat dijajakan oleh sejunlah penjual di Jalan Dewi Sartika, dekat perempatan menuju Jalan MT Haryono, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (26/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Puluhan tahun sudah, sebuah kawasan yang terletak di Jalan Dewi Sartika, dekat perempatan menuju Jalan MT Haryono, Jakarta Timur disebut sebagai Cawang Kompor.

Saat masa jayanya, mulai dari tahun 90-an hingga awal milenium, kawasan tersebut dikenal sebagai sentra perajin dan penjualan kompor minyak tanah.

Mus Ari (39) atau yang akrab disapa Ari Kompor, perajin kompor, menceritakan, kisah tersebut bermula di penghujung tahun 70-an saat para pekerja di Stasiun Manggarai mencari tambahan penghasilan dari mengubah sebuah drum oli menjadi kompor minyak.

"Awalnya itu dari pekerja di Stasiun Manggarai, mereka berusaha cari tambahan penghasil dengan memanfaatkan drum-drum oli yang sudah tidak terpakai," ucapnya, Minggu (28/10/2018).

"Dari satu drum oli berukuran besar mereka bisa menjadikannya delapan hingga 10 kompor minyak," tambahnya.

Setelah berhasil mengubah drum bekas oli menjadi kompor minyak, mereka lalu menjualnya di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Cawang Kompor.

Saat masa jayanya, puluhan pengrajin dan pedagang kompor minyak yang terbuat dari bahan alumunium itu berjejer rapi di sisi kanan dan kiri wilayah tersebut.

Namun, petaka datang di tahun 2008 saat pemerintah memutuskan melakukan konversi dari kompor minyak ke kompor ramah lingkungan atau gas.

sejumlah kerajinan yang berasal dsri bahan dasar alumunium terlihat dijajakan oleh sejunlah penjual di Jalan Dewi Sartika, dekat perempatan menuju Jalan MT Haryono, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (26/10/2018).
sejumlah kerajinan yang berasal dsri bahan dasar alumunium terlihat dijajakan oleh sejunlah penjual di Jalan Dewi Sartika, dekat perempatan menuju Jalan MT Haryono, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (26/10/2018). (TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI)

"Saat ada konversi minyak ke gas dari pemerintah itu disini kerasa bangat efeknya, penghasilan merosot tajam, masyarakat sudah enggak ada yang nyari kompor minyak lagi," ujarnya saat ditemui TribunJakarta.com.

Akibat penghasilan yang merosot tajam, banyak pedagang di Cawang Kompor gulung tikar, mereka beralih profesi, ada yang kembali pulang ke daerah asalnya menjadi petani, bahkan ada beberapa yang menjadi kuli panggul di pasar.

"Sejak tahun 2008 perajin dan penjual disini sudah berkurang drastis, sekarang paling tinggal belasan, sebagian besar pulang kampung, kembali jadi petani," kata Ari.

Tak semua perajin dan pedagang di Cawang Kompor tersebut gulung tikar.

Beberapa perajin dan pedagang kini banyak yang mulai berinovasi untuk tetap menjaga dapur mereka tetap mengebul.

Kini mereka mulai berinovasi dengan membuat dan menjual oven kompor, oven gas, dan beragam jenis panci dan wajan penggorengan.

Satu diantara perajin tersebut ialah Riyadi (44), ia mengatakan, penjualan oven, panci, dan wajan tersebut lebih laris dibandingkan penjualan kompor minyak sendiri.

"Sekarang perajin kompor minyak hanya tinggal beberapa, sebagian besar lebih memilih membuat oven atau panci dari alumunium," ujarnya.

Meski omzetnya terus menurun, namun ia tetap bersyukur dapat tetap menafkahi seorang istri dan dua orang anaknya yang masih bersekolah di SMK dan SD.

Harga oven yang dijual Riyadi beragam, mulai dari Rp 200 ribu untuk oven ukuran kecil dan yang berukuran besar seharga Rp 1,7 juta hingga Rp 2,4 juta.

Sementara untuk harga panci, ia menjualnya dengan kisaran harga mulai dari Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu.

"Alhamdulillah rezeki sudah ada yang mengatur, ada saja yang beli, rata-rata per hari lumayan lah, bisa dapat Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta," ucapnya.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved