Breaking News:

Pesawat Tak Diperbolehkan Melintasi Daerah Konflik di Beberapa Negara Ini

Seperti wilayah konflik. Demi keselamatan penerbangan, pesawat tak diperbolehkan melintasi daerah konflik, karena ditakutkan menjadi sasaran tembak.

Editor: Ilusi Insiroh
www.brainscape.com
Ilustrasi Pesawat 

TRIBUNJAKARTA.COM - Saat Kamu  memesan tiket, tentunya sudah memilih rute pesawat yang akan dinaiki.

Lalu, sudah jamak pilot akan membawa pesawat yang naiki, melewati rute-rute tertentu, agar selamat sampai tujuan.

Tentunya setiap penerbangan memiliki rutenya masing-masing.

Namun untuk pengetahuan , tak semua rute bisa dilalui, karena ada larangan tertentu.

Seperti wilayah konflik. Demi keselamatan penerbangan, pesawat tak diperbolehkan melintasi daerah konflik, karena ditakutkan menjadi sasaran tembak.

Ada juga wilayah yang dihindari karena di wilayah itu turbulensi terlalu tinggi akibat wilayahnya rawan badai atau hujan deras, misalnya di wilayah Asia Tengah.

Namun di luar masalah daerah konflik atau rawan turbulensi akibat cuaca tak menentu, ada wilayah di beberapa negara-negara lain yang tak boleh dilintasi oleh pesawat.

Inilah negara-negara/wilayah tersebut:

Pesawat Lion Air JT610 Jatuh: Kronologi hingga Permintaan Terakhir Pilot

Lion Air JT610 Jatuh, Sambil Berlarian Haykal Kamil: Ada Sepupu Gue Jadi Korban

1. Afrika

Menurut data Asosiasi Penerbangan Udara Internasional (IATA), Afrika paling rawan dilintasi pesawat karena faktor infrastruktur bandara dan kesiapan SDM pengelola bandara yang masih rendah.

Angka kecelakaan di negara itu sebanyak 6,83 per 1 juta penerbangan pada 2009 hingga 2013. Ini merupakan angka tertinggi di dunia.

2. Rusia

Para pilot perusahaan penerbangan manapun di seluruh dunia diimbau untuk super hati-hati saat memasuki wilayah Rusia yang dahulu bernama Uni Soviet karena negara ini masih rawan konflik.

Dahulu saat masih bersatu dalam Uni Soviet dan paham komunis masih kental, malahan tidak semua maskapai penerbangan diizinkan melintasi negaranya.

Halaman
123
Sumber: Nakita
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved