Cerita Tobat Agen Properti: Sempat Bergelimang Harta, Kecanduan Judi Lalu Beralih Jasa Servis Ponsel

Hendrik mengenang kisahnya tatkala ia pernah menjadi seorang agen properti di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Y Gustaman
TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Hendrik (Kiri) sedang berada di kios ponsel yang dikelola adiknya di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Hendrik mengenang kisahnya tatkala ia pernah menjadi seorang agen properti di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Semasa menjadi agen properti, ia pernah mencapai masa keemasannya hingga bergelimang uang.

Saat itu, pembeli-pembelinya dari kalangan para pejabat.

"Ditanya dulu, saya memang menjadi agen properti. Saya cukup kenal para pejabat saat itu yang saya bantu mencarikan properti," cerita Hendrik kepada TribunJakarta.com di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/10/2018).

Bahkan, ia meraup banyak keuntungan dari banyaknya para pembeli yang menginginkan properti di Kebayoran Baru.

"Dulu orang kaya enggak punya apartemen enggak merasa kaya. Saya mendapat banyak uang dari jadi agen properti saat itu," paparnya.

Hal duniawi membutakan mata Hendrik sehingga terjerumus ke dunia perjudian hingga kecanduan.

"Saya dulu penjudi. Suka main ke kasino. Pokoknya, tiap hari, tujuh hari dalam seminggu saya main ke sana. Karena dari properti uang gampang," ujar dia.

Dulu ia sempat memiliki rumah dan mobil namun semuanya lenyap.

"Saya senang mobil Eropa. Setiap mobil tahannya empat bulan. Setiap tahun saya beberapa kali ganti mobil karena dijual buat judi. Rumah juga saya jual karena judi itu," terang dia.

Masa keemasan yang bertahun-tahun dirasakannya akhirnya hilang.

"Era keemasan saya dari tahun 1998 sampai 2004 kemudian properti kian banyak saingannya. Dulu masih itungan jari. Dulu investor cari kita, pemilik uang cari kita, tapi sekarang sulit," ujarnya.

Ia menilai sekarang harga tanah di Jakarta Selatan semakin tinggi dan semakin sulit untuk mencari pembeli.

"Dulu Jakarta Selatan tak terlalu tinggi harga tanahnya, sekarang sudah tinggi harganya," tuturnya.

Kini, ia beralih menjadi penjual barang-barang online.

"Saya sekarang menjual barang-barang online, sampai sekarang sebenarnya masih jadi agen properti tapi buang-buang waktu. Sekarang bantu adik saya servis dan jualan handphone," paparnya.

Hendrik berharap tak ada orang yang mengikuti jejaknya lantaran penyesalan datang belakangan.

"Me-manage-lah uang dengan benar. Karena salah mengelola kehidupan pribadi akhirnya enggak ada makna. Berarti belajar kesalahan untuk menjadi lebih baik lagi. Kalau dapat peluang bisnis yang bagus kelola secara benar," tandas dia.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved