Lion Air JT610 Jatuh

Operasi SAR Lion Air PK-LQP Hari Ini Fokus Pada Pencarian Black Box

Operasi pencarian bangkai pesawat Lion Air PK-LQP kode penerbangan Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang fokus ke black box

Operasi SAR Lion Air PK-LQP Hari Ini Fokus Pada Pencarian Black Box
TribunJakarta/Gerald Leonardo Agustino
Kabasarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi, Kamis (1/11/2018) di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Operasi pencarian kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP kode penerbangan Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, memasuki hari keempat, Kamis (1/11/2018).

Di hari keempat ini, operasi SAR difokuskan ke pencarian black box atau kotak hitam dan badan utama pesawat JT610 yang berada di dasar laut dengan kedalaman 32 meter lebih.

Kabasarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi mengatakan, empat kapal yang memiliki teknologi alat pendeteksi bawah laut sudah dikerahkan di empat titik lokasi pencarian.

Empat kapal tersebut meliputi Kapal Baruna Jaya milik BPPT, KR SAR Basudewa milik Basarnas, KRI Rigel milik TNI AL, serta Kapal Pertamina.

"Empat kapal gabungan ini di bawah koodinasi Basarnas dengan operasi 24 jam sesuai arahan Presiden. Dari empat kapal itu semuanya mendeteksi objek yang ada di dasar laut," kata Muhammad Syaugi di posko evakuasi Lion Air JT610, Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dari keempat kapal tersebut, hanya Kapal Baruna Jaya milik BPPT yang diturunkan jangkarnya. Sebab, kemarin kapal yang memiliki ping locator tersebut sempat mendeteksi adanya bunyi yang diduga berasal dari black box.

Lokasinya berada di 400 meter barat laut titik koordinat diduga kuat lokasi jatuhnya pesawat, yakni 05 derajat 46 menit 15 detik south, 107 derajat 07 menit 16 detik east.

"Satu kapal yang diturunkan jangkarnya, Baruna Jaya. Ya mungkin nanti ada lagi kapal bantuan. Strategi berikutnya kita pasang jangkar di daerah tersebut, yang saya bilang jaraknya 400 m sebelah barat laut. Malam sudah dipasang jangkar sehingga harapannya tadi pagi penyelam sudah mulai masuk dengan remotely operated vehicle (ROV). Kita turunkan untuk memastikan," kata Muhammad Syaugi.

Sebelumnya, derasnya arus perairan Tanjung Karawang menjadi kendala tersendiri, terutama saat hari sudah mulai larut.

Direktur Teknik Lion Air Dibebastugaskan, Mantan Menhub Jusman Syafii Jamal: Indikasi Ada Persoalan

Bodi Besar Lion Air JT610 Terbenam Lumpur, Diduga Ada Korban

Keluarga Korban Lion Air JT610 Dapat Santunan Rp 50 Juta dari Jasa Raharja, Ini Jadwal Pencairannya

Selain itu, keberadaan pipa-pipa milik Pertamina di dasar laut menjadi kendala tambahan dalam upaya pencarian black box Lion Air PK-LQP kode penerbangan Lion Air JT610  yang jatuh di perairan Tanjung Karawang.

Sebab, menurut Kabasarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi, pipa-pipa tersebut menghalangi kapal pembawa alat pencari di bawah laut remotely operated vehicle (ROV) untuk menurunkan jangkarnya.

Muhammad Syaugi mengatakan, ROV dengan ping locator yang diterjunkan untuk mendeteksi titik black box hari ini kesulitan untuk menetap lantaran terbawa arus.

Oleh karena itu, jangkar harus diturunkan supaya tidak terbawa arus dan menjauh dari titik yang diduga kuat menjadi tempat keberadaan black box.

Strategi yang disebut lego jangkar itu, menurut Kabasarnas, tepat dilakukan untuk memaksimalkan upaya pencarian.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved