Breaking News:

FEB Unpad Gelar Seminar Internasional Bekerjasama dengan Universiteit Leiden

Dari kegiatan tersebut terungkap pemanfaatan teknologi didalam setiap lini kehidupan pada era revolusi industri 4.0 menjadi suatu keniscayaan

unpad.ac.id
Universitas Padjadjaran 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Program Studi Magister Manajemen Keuangan Mikro Terpadu (MMKmT) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran menggelar Seminar Internasional Integrated Microfinance Management (IMM).

Seminar yang mengambil tema “IMM on 4.0 Industrial Revolution” ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpad Yudi Azis.

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari International Workshop yang digelar oleh MKmT FEB Unpad mulai 29 Oktober sampai dengan 9 November 2018 bekerjasama dengan Universiteit Leiden, Belanda.

Hadir sebagai pembicara Direktur Leiden Ethnosystem And Development (LEAD) Programme Prof. Dr. Dr (HC) L. Jan Slikkerveer, CEO Kuelap –perusahaan konsultan IT microfinance institution berbasis di Seattle Craig Chelius, Director Innovation and Partnership Kuelap Luisa Martinez, Ketua Pengurus Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) Slamet Riyadi M.MKMT, Akademisi Unpad Asep Mulyana, dan bertindak sebagai moderator Harlan Dimas.

Dari kegiatan tersebut terungkap pemanfaatan teknologi didalam setiap lini kehidupan pada era revolusi industri 4.0 menjadi suatu keniscayaan, terutama pada sektor keuangan, bisnis, dan pembangunan.

Namun, untuk dapat meningkatkan inklusi keuangan masyarakat, khususnya pada masyarakat miskin, penggunaan teknologi perlu mempertimbangkan kondisi kultural yang melingkupinya. Dalam hal ini sentuhan manusia masih menjadi kunci penting untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif.

Institusi keuangan mikro, yang menjadi salah satu ujung tombak pembangunan dan pengentasan kemiskinan, diharapkan kembali fokus pada penanggulangan kemiskinan dengan tanpa mengabaikan pemberdayaan komunitas dan pengetahuan lokal. Termasuk mempertimbangkan karakteristik masyarakat miskin di perkotaan dan perdesaan.

Oleh karena itu, pemanfaatan kemajuan teknologi untuk efisiensi transaksi keuangan mikro seperti fintech diharapkan tidak hanya fokus pada efisiensi teknis dan operasional sebagaimana yang seringkali dijadikan andalan. Namun juga dalam konteks sosial saat teknologi akan dipergunakan.

Seperti dicontohkan Grameen Bank di Bangladesh maupun Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) di Indonesia yang memfokuskan pada peran perempuan sebagai agen perubahan dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan di masyarakat lokal.

Ketua Program Studi Magister MKmT, Arief Helmi mengatakan kegiatan yang merupakan inisiatif dari mahasiswa tersebut merupakan salah satu cara untuk meyakinkan agar jangan sampai ada masyarakat yang tertinggal di era revolusi industri 4.0.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved