Pilpres 2019

Pengamat Politik: Prabowo Sudah Minta Maaf, Harusnya Laporan Dicabut

Permintaan maaf calon presiden 02 Prabowo Subianto diharapkan dapat menyudahi kontroversi "tampang Boyolali."

Editor: Y Gustaman
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Prabowo Subianto saat berbicara di hadapan relawan Rhoma Irama, Cilodong, Depok, Minggu (28/10/2018).  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Permintaan maaf calon presiden 02 Prabowo Subianto diharapkan dapat menyudahi kontroversi "tampang Boyolali."

Pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan, baik Prabowo maupun warga Boyolali dapat menyudahi persoalan dengan saling memaafkan.

Dalam kasus ini seorang warga Boyolali membuat laporan polisi dengan terlapor di Polda Metro Jaya. Namun, pihak kepolisian masih menelaah laporan tersebut. 

"Warga mencabut kembali laporan mereka atas terhadap Prabowo dari kepolisian. Begitu juga pihak Prabowo untuk juga mencabut laporan mereka terkait dengan ucapan pejabat Boyolali yang mereka anggap tidak pantas," ujar Ray Rangkuti kepada Tribunnews.com, Kamis (8/11/2018).

Menurut Ray Rangkuti, sudah saatnya semua orang memmulai lagi tradisi saling memaafkan, berarti persoalan yang menyangkut hukum juga ditiadakan.

Dia menilai, pameo maaf diberikan tapi hukum terus berlanjut kurang tepat.

"Permintaan maaf jadi kurang bermakna jika proses hukum tetap dilangsungkan," jelas Ray Rangkuti.

Melaui vlog bersama Kordinator Juru bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, Prabowo menyampaikan permintaan maaf apabila ada yang tersinggung dengan pidatonya tersebut.

"Saya tidak maksud menghina, Tapi kalau ada yang merasa tersinggung saya minta maaf," kata Prabowo dalam vlog di akun Instagram Dahnil yang diunggah, Selasa (6/11/2018) malam.

Prabowo menjelaskan soal pidato tersebut. Pidato yang disampaikan dalam acara peresmian gedung pesertanya berasal dari kader partai mitra koalisi yang jumlahnya sekitar 400 sampai 500 orang.

Dalam pidato kurang lebih satu jam tersebut Prabowo mengatakan tidak ada sama sekali niatan untuk merendahkan warga Boyolali. Pernyataan 'Tampang Boyolali' tersebut merupakan gaya bicaranya yang merasa dekat dengan warga.

"Tidak ada niat sama sekali, itu kan cara saya bicara, familier, ya istilah bahasa bahasa sebagai orang temen," katanya.

Adapun menurut Prabowo pidato 'Tampang Boyolali' tersebut tersebar dalam cuplikan video yang hanya berdurasi dua menit. Padahal dalam pidato utuhnya ia berbicara mengenai masalah kesenjangan, ketimpangan, dan ketidakadilan.

"Itu bukan menghina, itu empati, kalau saya bicara tampang itu Boyolali, itu selorohnya empati, saya tahu kondisi kaluhan yang saya permasalahkan adalah ketidakadilan, kesenjangan, ketimpangan, dan Indonesia masih tidak adil, dan kalau saya disebut Tampang Bojong koneng terimakasih lah. Saya tidak maksud menghina," katanya.

Prabowo mengaku siap apabila ada yang menginginkan dialog, akibat pernyataannya tersebut. Malah menurutnya dialog harus dikedepankan dalam menyelesaikan permasalahan.

"Kalau ada dilaog langsung tidak ada masalah,baik baik saja, Demikrasi ya harus dinamis. Diaogis, kalau kita tidak boleh melucu seloroh, joking, bercanda, ya bosen. 

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved