Pilpres 2019

Galang Suara Pemilih, Kiai Ma'ruf Amin Pilih Adu Program Ketimbang Politik Identitas

Calon wakil presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin memilih mengedepankan adu program ketimbang menggaungkan politik identitas untuk menggalang suara.

Galang Suara Pemilih, Kiai Ma'ruf Amin Pilih Adu Program Ketimbang Politik Identitas
Tribunnews.com/FX Ismanto
Calon wakil presiden KH Mar'ruf Amin menghadiri deklarasi dukungan Barisan Nusantara untuk Jokowi-Ma'ruf di Kantor Barisan Nusantara, Jalan Cempaka Putih Timur No. 8 Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Calon wakil presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin memilih mengedepankan adu program ketimbang menggaungkan politik identitas untuk menggalang suara. 

Peryataan Kiai Ma'ruf menanggapi Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang menilai politik identitas semakin mengemuka setelah Pilkada DKI Jakarta 2017 silam.

"Saya kira enggak ada politik identitas. Justru adu program, bagaimana apa yang sudah dan apa yang akan (dilakukan)," kata Kiai Ma'ruf Amin di Rumah Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (12/11/2018).

"Saya menyebutkan yang akan diperjuangkan itu berawal dari landasan, capaian dan perolehan yang kita jadikan sebagai milestone, tonggak untuk maju," tambah dia.

Pasangan Jokowi dalam Pilpres 2019 ini berpendapat, pendekatan saat ini lebih diutamakan adu program, bukan politik identitas, seperti bagaiamana membangun Indonesia ke depan.

"Kita melangkah lebih besar lagi dalam rangka memperbesar kemanfaatan, kemaslatan yang sudah diberikan, menambah yang belum. Memperbesar kemaslahatan, menambah atau melakukan penyesuaian atau mengadjust dan menyempurnakan," terang Kiai Ma'ruf.

Ia mencontohkan jika ada warga Nadhatul Ulama mendukung orang NU sebagai hal yang wajar. Artinya di situ ada kesamaan, tidak terkait dengan politik identitas.

"Kita kan sudah sepakat tidak membawa politik identitas dalam pendekatannya. Ya enggak tahu yang lain, tapi dari kita, dari (paslon) 01 tidak," tegas dia.

Dalam pidato pembekalan caleh Partai Demokrat, SBY menyadari politik identitas menguat setelah Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Saya berani mengatakan politik kita telah berubah. Yang berubah adalah makin mengemukanya politik identitas, atau politik SARA dan politik yang sangat dipengaruhi oleh ideologi dan paham," kata SBY.

Ia menyadari identitas sosial dan ideologi tak mungkin dipisahkan dari politik. Namun ia menilai hal itu tak baik jika menimbulkan pengaruh yang sangat ekstrem.

Apalagi, kata SBY, Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki riwayat panjang konflik ideologi dan identitas. Konflik tersebut terjadi sejak era kepresidenan Sukarno hingga sekarang.

Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved