Pilpres 2019

Ucapan Buta dan Tuli Kiai Ma'ruf Amin Dipolitisir, Begini Respon Timses

Ucapan calon wakil presiden KH Ma'ruf Amin yang menyindir pihak yang buta dan tuli terhadap keberhasilan pemerintah Presiden Joko Widodo dipolitisir.

Editor: Y Gustaman
TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma
Cawapres KH Ma'ruf Amin tiba di kediaman Shinta Nuriyah istri almarhum Mantan Presiden Gus Dur, Rabu (26/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribunnnews.coom, Dennis Destryawan

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Ucapan calon wakil presiden KH Ma'ruf Amin yang menyindir pihak yang buta dan tuli terhadap keberhasilan pemerintah Presiden Joko Widodo dipolitisir.

Ada pihak yang menggoreng ucapan Kiai Ma'ruf sebagai bentuk sindiran terhadap penyandang difabel, terutama tunanetra dan tunarungu. 

"Kami sangat menyayangkan adanya politisasi terhadap kaum difabel," ujar Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Hasto Kristiyanto, kepada wartawan di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/11/2018).

Hasto menegaskan pasangan Jokowi-Ma'ruf sangat mendukung kesetaraan kaum difabel. Hasto menyontohkan bagaimana dalam gelaran Asian Para Games 2018 yang dihelat oleh Indonesia menunjukkan semangat perjuangan kaum difabel.

Politikus PDI Perjuangan itu menyayangkan ada pihak mempolitisir kaum difabel untuk kepentingan politik. Sebab, Jokowi telah menunjukkan kepedulian terhadap kaum difabel melalui kebijakan pemerintah.

"Bahkan, Pak Jokowi telah memberikan instruksi kepada seluruh kepala daerah untuk memberikan sebuah kebijakan-kebijakan di mana di ruang-ruang publik akses-akses kepada kaum difabel itu semakin diperbesar," kata Hasto.

Hasto menerangkan, pernyataan Kiai Ma'ruf Amin soal buta dan tuli merupakan kritik dalam dinamika politik. Kiai Ma'ruf tak bermaksud untuk menyinggung fisik.

"Di mana hanya karena ambisi kekuasaan banyak politisi yang kemudian tidak menjadikan tuntunan mata hati, kemudian membutakan diri dari nuraninya," ucap Hasto.

Hasto berujar buta dan tuli yang dimaksud Kiai Ma'ruf adalah istilah untuk orang yang korupsi dan tidak mendengarkan aspirasi masyarakat.

"Sehingga itu adalah sebagai sebuah kritik ketika ada pihak-pihak yang mobilisasi ini dengan demo dan sebagainya," tutur Hasto.

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved