Soroti BPJS Kesehatan, Mardani Ali Sera Janjikan Ini Bila Prabowo-Sandi Terpilih di Pilpres 2019

Mardani Ali Sera mengkritik program BPJS Kesehatan, yang dianggapnya menyulitkan para dokter, perawat di rumah sakit dan juga warga.

Soroti BPJS Kesehatan, Mardani Ali Sera Janjikan Ini Bila Prabowo-Sandi Terpilih di Pilpres 2019
TribunJakarta.com/Nawir Arsyad Akbar
Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera menghadiri Deklarasi Emak-Emak Indonesia Jaya (Emak Ija), di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (20/11/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nawir Arsyad Akbar

TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Mardani Ali Sera mengkritik program BPJS Kesehatan, yang dianggapnya menyulitkan para dokter, perawat di rumah sakit dan juga warga.

"Ada problem tentang kesehatan di negara kita. Kalau ada dokter, perawat sekarang kayak kerja rodi, tapi bayaran sangat kecil. Bukan cuma itu, Rumah Sakit juga kebanyakan nunggak karena sistem BPJS tidak sempurna," ujar Mardani Ali Sera, di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Menurutnya, sistem BPJS kesehatan haruslah dibuat demi memudahkan masyarakat, dalam memperoleh akses kesehatan.

Di hadapan emak-emak Mardani berjanji, jika Prabowo-Sandi terpilih dalam Pilpres 2019 maka sistem BPJS nantinya akan diperbaiki.

"Kami akan perbaiki BPJS (Kesehatan) di 2019, BPJS harus membuat masyarakat tidak antre lagi, BPJS membuat dokter dan perawat mendapat bayaran yang benar, BPJS harus bikin rumah sakit tidak rugi," ujar Mardani Ali Sera.

Wali Kota Jakarta Pusat Pimpin Rakorpim di Kantornya Hari Ini

Tak Selalu Buruk, Ini 9 Jenis Sikap Egois yang Ternyata Wajib Anda Miliki, Apa Saja Ya?

Sebelumnya, berdasarkan audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) setidaknya hingga akhir 2018, defisit BPJS Kesehatan mencapai Rp 10,98 triliun.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris membeberkan penyebab defisitnya keuangan BPJS Kesehatan. Salah satunya yakni minimnya iuran dana yang diberikan oleh masyarakat penerima manfaat.

Berdasarkan data premi sejak 2016, biaya per orang setiap bulannya mencapai Rp 35.802, padahal premi per orangnya hanya Rp 33.776. Sementara pada 2017, per orang biayanya mencapai Rp 39.744, tetapi premi per orang sebesar Rp 34.119. Artinya, pada 2016 ada selisih Rp 2.026 dan pada 2017 Rp 5.625.

Penulis: Nawir Arsyad Akbar
Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved