Breaking News:

Sepanjang Bulan November 2018, 2.441 Kendaraan Melanggar Tilang Elektronik

Penegakan hukum sistem tilang elektronik ini sudah diberlakukan sejak 1 November 2018 lalu.

Penulis: Suci Febriastuti | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/SUCI FEBRIASTUTI
Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusuf usai grand launcing Electronic Trafic Law Enforcement (ETLE) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Minggu (25/11/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Suci Febriastuti

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Sepanjang November 2018, sebanyak 2.441 kendaraan bermotor (ranmor) melakukan pelanggaran sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) atau Tilang Eleltronik.

Diketahui, penegakan hukum sistem Tilang Elektronik ini sudah diberlakukan sejak 1 November 2018 lalu.

"Sampai dengan minggu kemarin, hari Jumat. Itu pelanggarnya ada kurang lebih 2.441 yang terupdate," kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusuf di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Minggu (25/11/2018).

Yusuf menyebut, dari angka tersebut 1.237 diantara pemilik kendaraan sudah menerima surat konfirmasi dari, 136 pemilik ranmor sudsh membayar denda, dan 124 sudah menerima vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Saat ini sistem tilang elektronik ini baru terpasang di dua titik, yakni Patung Kuda dan Sarinah, yang masing-masing titiknya dipasang dua kamera.

Yusuf menilai sistem ini cukup efektif lantaran menggunakan teknologi elektronik berupa kamera ANPR (Automatic Number Plate Recognition). 

Yusuf mengatakan ANPR dapat mendeteksi tanda nomor kendaraan bermotor secara otomatis, merekam, dan menyimpan bukti pelanggaran. 

"Ini sangat efektif terbukti dari pertama kali dipasang di Patung Kuda jumlah pelanggarannya sampai dengan seratus. Sebulan akhirnya mengecil, ini bukan karena polisi ini karena hasilnya. Itu kan bagus berarti ada penurunan di Patung kuda," katanya.

Meskipun demikian, ia mengatakan pelanggaran masih banyak terjadi di kawasan Sarinah.

Pihaknya juga masih akan mensosialisasikan sistem tilang elektronik tersebut kepada masyarakat.

"Sekarang banyak malah di Sarinah. Mudah-mudahan turun juga setelah mereka tahu," katanya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved