Warga Depok Sebut Penataan Sempadan Situ Pedongkelan Buruk

Tekstur lumpur yang lembek dipertanyakan warga karena dapat membahayakan warga yang melintas di tepi Situ Pedongkelan.

Warga Depok Sebut Penataan Sempadan Situ Pedongkelan Buruk
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kondisi bagian tepi Situ Pedongkelan yang akan dijadikan lintasan jogging track, Senin (26/11/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIMANGGIS - Warga Kecamatan Cimanggis tak hanya mempertanyakan normalisasi Situ Pedongkelan yang menelan dana Rp 3.560.509.800 miliar, tapi juga penataan sempadan dengan anggaran Rp 1.930.596.100 miliar.

Pasalnya kedua pengerjaan proyek yang menggunakan dana bantuan Gubernur (Bangub) Provinsi DKI Jakarta itu tak memperbaiki kerusakan Situ Pedongkelan dan justru sangat merugikan warga.

Ketua RW 05 Kelurahan Tugu, Sofinal Darwis mengatakan tanah yang digunakan sebagai dasar jogging track justru menggunakan tanah garapan yang terletak di sisi Selatan Situ Pedongkelan.

"Mereka enggak beli tanah dari luar, tanah garapan depan rumah warga itu dikeruk terus dipakai untuk buat puffing block yang jogging track itu. Parahnya lagi lubang di tanah garapan itu diisi lumpur campur sampah hasil pengerukan," kata Darwis di Situ Pedongkelan, Senin (26/11/2018).

Karena galian sedalam tiga hingga empat meter itu tak mampu menampung lumpur dan sampah yang sempat membuat sisi Selatan jadi seperti daratan dan mampu dipijaki.

Tumpukan lumpur, sampah bercampur bangkai ikan tak hanya dibuang depan rumah warga RT 05 dan RT 06 RW 05, melainkan memenuhi sisi Selatan Situ Pedongkelan hingga nampak membuat rumah warga terkepung dan tenggelam.

Tekstur lumpur yang lembek dipertanyakan warga karena dapat membahayakan warga yang melintas di tepi Situ Pedongkelan.

"Yang bisa dipakai buat jalan cuman bagian dekat turap saja, bagian tengah seterusnya itu enggak mungkin buat jalan karena lumpurnya masih lembek. Orang pasti terjerembab kalau jalan di tengah, apa yang seperti ini bisa buat jogging track?" ujarnya.

Perginya dua beko yang bertugas mengeruk lumpur juga dipertanyakan warga karena berdasarkan banner yang ditempel di bedeng proyek, pengerjaan penataan berakhir pada (15/12/2018).

Halaman
123
Penulis: Bima Putra
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved