Menkopolhukam Wiranto Setuju PMP Kembali Dihidupkan

PMP diajarkan di sekolah-sekolah sejak kurikulum pada tahun 1975 diberlakukan. Kemudian pada tahun 1994, mata pelajaran itu berganti menjadi PPKN

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Republik Indonesia, Wiranto, di Universitas Terbuka (UT), Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa (27/11/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, PAMULANG - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, setuju jika Pendidikan Moral Pancasila (PMP) kembali dihidupkan.

Seperti diketahui, PMP diajarkan di sekolah-sekolah sejak kurikulum pada tahun 1975 diberlakukan. Kemudian pada tahun 1994, mata pelajaran itu berganti menjadi Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

"Ya enggak apa-apa, itu malah justru sangat bagus tatkala seluruh mahasiswa, anak didik kita, kita ingatkan bahwa negeri ini ada karena kita bersatu sebagai bangsa, negeri ini ada karena ada toleransi akan kita yang sangat beragam. Indonesia yang sangat beragam ini, suku bangsanya, agamanya, tapi dari toleransi itu muncul Pancasila," ujar Wiranto di Universitas Terbuka, Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (27/11/2018).

Bagi Wiranto, PMP menjadi penting sebagai pengingat Pancasila kepada masyarakat melalui jalur pendidikan.

Menurutnya, Pancasila merupakan simbol dari toleransi yang menghargai keberagaman dan agama, suku dan bangsa.

"Pancasila merupakan hasil kompromi dari para pendahulu kita yang modalnya adalah kebersamaan, kesabaran akan kebersamaan dan toleransi," kata lulusan Universitas Terbuka tahun 1994 itu.

Wiranto: Indonesia Masuk 5 Besar Dominasi Ekonomi di Dunia Tahun 2030

Cerita Beto Goncalves saat Hafalkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Pancasila

Cerita Ketua RT Soal Sosok Mat Yunus yang Meninggal di Masjid Universitas Pancasila

Wiranto justru khawatir jika Pancasila tidak diingatkan kembali. Para siswa hingga mahasiswa bisa timbul ego yang pada akhirnya menyebabkan perpecahan di kemudian hari.

"Kalau itu tidak diajarkan lagi, tidak diingatkan lagi kepada mahasiswa kita, ya suatu saat akan lupa. Muncul lagi ego-ego baru yang menimbulkan suatu pemecahan. Saya kira sangat baik sekali kita ingatkan melalui dunia pendidikan bahwa warisan yang paling berharga bagi Indonesia adalah persatuan," pungkas Panglima TNI 1998-1999 itu.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved