Sampah di Kepulauan Seribu Mencapai 40 Ton Per Hari

Yusen mengatakan, pihaknya dapat mengumpulkan lebih kurang 40 ton dalam sehari pembersihan

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Muhammad Zulfikar
Istimewa: Dok. Pribadi Edi Mulyono
Sampah di Pulau Pari 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, KEPULAUAN SERIBU - Kasudin Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Yusen Herdiman mengatakan sampah yang menghampar di perairan dan daratan Kepulauan Seribu setiap harinya selalu dibersihkan.

Yusen mengatakan, pihaknya dapat mengumpulkan lebih kurang 40 ton dalam sehari pembersihan.

"Setiap harinya, petugas mengumpulkan sampah rata-rata seberat 40 ton," kata Yusen, Rabu (28/11/2018).

Selain pembersihan, Yusen mengatakan petugas Sudin LH Kepulauan Seribu juga melakukan patroli rutin mengambil sampah di titik-titik rawan penumpukan.

Ada sebanyak 264 petugas kebersihan yang disebar ke titik-titik rawan penumpukan sampah seperti di pulau wisata dan pulau penduduk.

Untuk pembersihan sampah di laut, Sudin LH Kepulauan Seribu kini sudah memiliki 13 kapal berbagai ukuran yang siap beroperasi.

"Kita ada 13 kapal dari berbagai ukuran yang siap beroperasi. Tahun 2019 kami berencana menambah 10 kapal kecil dan satu kapal patroli," terang Yusen.

Yusen mengatakan, pembersihan sehari-harinya tak jarang menemui hambatan seperti cuaca buruk, gelombang yang tinggi, atau kapal yang belum tentu dapat bersandar di pulau tertentu.

Budi Sudarsono Doakan Persija Jakarta Juara Liga 1 2018

Budi Sudarsono Sudah Tak Tertarik Nonton Sepakbola Indonesia

Polisi Tetapkan Sopir Kecelakaan Maut Cipondoh Sebagai Tersangka

"Jika tidak bisa bersandar, petugas menggunakan perahu kecil agar kapal tidak merusak terumbu karang di sekitar pulau. Namun ukuran perahu yang kecil, hanya dapat menampung satu meter kubik sampah," ucap Yusen.

Adapun sampah yang sering ditemui rupanya beragam. Mulai dari sampah plastik, bambu, eceng gondok, sampai limbah minyak.

Sampah tersebut dikatakan Yusen berasal dari kota satelit di luar Jakarta. Sementara limbah minyak disinyalir berasal dari air kotoran kapal.

"Sampah kiriman dari tetangga Jakarta, seperti Banten dan Jabar, kalau 13 aliran sungai di DKI relatif sudah bersih. (Untuk limbah minyak) selama ini, banyak kapal-kapal yang disinyalir mencuci kapal pada malam hari sehingga tidak terjangkau petugas karena laut yang begitu luas dan kondisi alam yang berat. Kotoran kapal hasil mencuci itu, berupa minyak yang dapat mencemari lingkungan," papar Yusen.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved