Liga Indonesia

Kontroversi Edy Rahmayadi: Ucapan Blunder, Tolak Suap Mafia Rp 1,5 Triliun, Ingin Mundur dari PSSI

Edy Rahmayadi menjadi lebih populer belakangan ini karena prestasi timnas Indonesia melempem di Piala AFF 2018. Berikut sosok Edy di mata rekannya.

Kontroversi Edy Rahmayadi: Ucapan Blunder, Tolak Suap Mafia Rp 1,5 Triliun, Ingin Mundur dari PSSI
Super Ball/Feri Setiawan
Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi memberikan sambutan dalam pembukaan Turnamen Sepakbola Antar Forum Wartawan yang di selenggarakan di Lapangan Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta, Rabu (10/5/2017) dalam memperigati HUT PSSI ke-87 PSSI Pers mengadakan Turnamen Invitasi Antar Forum Wartawan yang di ikuti 8 tim dari berbagai Pokja Pers. 

Ia mengaku PSSI menerima banyak tekanan dari berbagai sisi untuk melengserkan Edy Rahmayadi dari jabatannya sebagai Ketum PSSI.

"Kami tak bisa menafikan saat ini, karena PSSI dapat atensi negatif dari berbagai arah mata angin. Pertama dari selatan, publik ini sudah muak dengan PSSI, betul gak?," kata Gusti Randa kepada wartawan, Minggu (25/11/2018).

"Lalu dari utara, ada tekanan bisa dilihat pemerintah ini kan punya telematik itu gesturnya sudah marah ke PSSI. Dari kiri kanan media pun menekan ini."

"Nah, bagaimana PSSI sekarang? Harus punya sikap. Apa? Pertama mbok ya misal Ketum beri statment jangan blunder, misalnya. itu saya ungkapkan tapi tak bisa diputuskan karena Pak Edy-nya tak ada," ujar dia.

Pria yang sebelumnya sempat mengetuai Tim Pencari Fakta (TPF) PSSI terkait kematian suporter, menyebut pihaknya kesulitan berkomunikasi dengan Edy Rahmayadi karena jarang menunjukkan batang hidungnya di Jakarta.

Edy Rahmayadi memang terbilang jarang turun langsung bahkan sekedar hadir pada pertandingan-pertandingan yang dimainkan timnas Indonesia.

"Lalu masalah ranghkap jabatan? Exco cuma bisa menyarankan, tapi orangnya gak ada. Kemudian masalah waktu, gimana tunjuk lah siapa, tapi bagaimana bisa dibicarakan kalau ketumnya tak ada," tuturnya mengeluh.

"Ketum saat ini di Sumut. Dia kan bagian dari Exco, sehingga itu harus disikapi, kalau tidak macam-macam bisa panjang," ucapnya.

Tolak Sogokan Mafia Luar Negeri

Di balik ucapannya yang kontroversial, Ketum PSSI Edy Rahmayadi patut dibanggakan karena melawan mafia luar negeri yang mencoba menyuapnya.

Hal itu diungkap langsung oleh anggota Exco PSSI, Refrizal, dalam acara Mata Najwa Trans 7, Rabu (28/11/2018) malam

Refrizal membongkar kasus suap yang nyaris menerpa nama Edy Rahmayadi sebagai Ketum PSSI.

Semula politikus PKS itu mengatakan Edy Rahmayadi adalah sosok baik mengawal PSSI.

Refrizal menyebut hal itu sesaat menjawab pertanyaan Sekretaris Kemenpora Gatot Dewa Broto.

Gatot sempat memberikan pertanyaan kepada Exco PSSI yang hadir, Refrizal dan Gusti Randa soal terobosan Edy selama di PSSI.

Refrizal mengambil pertanyaan Gatot. Ia menuturkan Edy Rahmayadi cukup bijak memimpin PSSI dan punya komitmen.

Salah satu hal baik yang dilakukan Edy Rahmayadi yakni menolak suap dari mafia luar negeri.

"Ada mafia yang lebih besar, dari luar negeri, dia menawarkan Rp 1,5 T ke Pak Edy, tapi ditolak. Pak Edy itu bentengnya PSSI," kata Refrizal.

"Sebenarnya Pak Edy kalau mau kaya gampang saja tinggal terima suap itu, tapi dia tidak," lanjut pria 59 tahun itu.

Gatot mengapresiasi langkah Edy Rahmayadi yang demikian, tetapi ia punya pandangan lain soal rangkap jabatannya.

Secara aturan Edy Rahmayadi tidak salah, tetapi menurut Gatot hanya kurang patut saja.

"Secara aturan tidak salah, kecuali menjadi ketua KONI dan menjabat jabatan publik itu yang tidak boleh."

"Tapi dalam kepatutan, alangkah indahnya kalau Pak Edy bisa fokus. PSSI itu seperti ayam kehilangan induknya. Saya kenal Pak Edy itu baik," puji Gatot.

Mau Mundur Tapi Ditahan

Sebenarnya Edy Rahmayadi sempat menyampaikan ingin mundur sebagai Ketum PSSI.

Hal itu disampaikan secara langsung oleh anggota Exco PSSI, Refrizal, saat acara Mata Najwa, Rabu (28/11/2018).

Namun, sepertinya permintaan mundur Edy sebagai Ketum PSSI ditolak oleh Exco.

Pasalnya, Edy Rahmayadi sudah menolak ketika ada bandar judi untuk menyogok PSSI dengan uang tunai Rp 1,5 triliun.

“Saya dan Gusti Randa (Exco PSSI) saksinya bahwa Pak Edy sempat mau mundur dari ketum PSSI. Tapi akhirnya kami larang dan memintanya untuk bertahan,” kata Refrizal.

Setelah ditolak oleh Exco PSSI, Edy Rahmayadi sempat berbicara dengan Asosiasi Provinsi PSSI untuk meminta mundur ketika mengumpulkan mereka di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat.

“Saat itu semua kompak Asprov PSSI menolak dan meminta Pak Edy bertahan karena dia sudah menolak bandar judi yang ingin menyogoknya,” kata Refrizal.

“Pak Edy itu merupakan benteng sepak bola kita karena dia memiliki sikap yang tegas,” tutup Refrizal.

Saat ini masyarakat Indonesia sedang menyuarakan agar Edy untuk keluar sebagai Ketum PSSI.

Hal itu karena prestasi timnas Indonesia yang dinilai gagal dalam semua ajang event tahun ini. (*) (TribunJakarta.com/BolaSport.com)

Penulis: yogi gustaman
Editor: Erik Sinaga
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved