Kurs Rupiah Menguat ke Level 14.200, Jokowi: Jangan Kaget kalau Dolar AS Turun Terus

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot, Senin (3/12/2018) kemarin.

Editor: ade mayasanto
Grafis Tribun Jakarta / Tribunnews.com - Jeprima
ILUSTRASI - Seorang karyawan saat menghitung mata uang dalam bentuk pecahan Rp 50.000 dan pecahan Rp 100.000 di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2018). Nilai tukar rupiah dipasar spot ditutup menguat 86 poin atau 0,62% ke level Rp 13.889 per dolar AS. 

Dampaknya, kepercayaan internasional pun semakin meningkat kepada Indonesia.

“Karena pengelolaan fiskal kita yang sangat hati-hati, prudent dan itu menambah kepercayaan internasional terhadap negara kita. Apa sih yang ingin kita bangun? Yang kita bangun adalah trust, tingkat kepercayaan. Bahwa kita mengelola fiskal, mengelola moneter secara hati-hati,” kata Jokowi.

Perang Dagang Mereda
Adapun Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menilai, intensitas perang dagang antara Amerika Serikat dan China kemungkinan akan mereda.

Ia meyakini, bila hal itu terjadi, maka akan berdampak positif kepada ekonomi nasional.

Salah satunya yakni penguatan nilai tukar rupiah yang sempat anjlok ke kisaran Rp 15.000-an per dollar AS.

"Dengan berita perang dagang (mereda), maka akan terbuka peluang rupiah menguat," ujar Darmin dalam acara CEO Network, Jakarta, Senin (3/12). Dalam beberapa minggu terakhir, kata Darmin, rupiah sudah menunjukkan penguatan nilai tukar terhadap dolar AS.

Bahkan, penguatan itu salah satu yang tercepat di antara negara ASEAN dan negara emerging market lainnya.

Penguatan nilai tukar rupiah diyakini akan terus berlanjut melihat perkembangan terkini perang dagang antara AS dan China.

Kini Jadi Beauty Vlogger, Suhay Salim Ternyata Ingin Jadi Dokter Kandungan

Ramalan Zodiak Keuangan di Bulan Desember 2018, Aries Saatnya Bijak Gunakan Uang

Sebelumnya, pembicaraan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghasilkan kesepakatan terkait perang dagang antara kedua negara ekonomi terkuat dunia tersebut.

Seperti dilansir CNBC, Minggu (2/12/2018), kedua pemimpin ini setuju tidak ada tarif tambahan yang akan dikenakan setelah 1 Januari 2019 mendatang.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved