Breaking News:

Peneliti LIPI Beberkan Dampak Mengerikan dari Pencemaran Sampah Plastik di Lautan

Reza menilai, dapak pencemaran sampah plastik tidak bisa dilihat hanya dari sisi estetika yang terjadi di lautan.

National Geographic
Sampah plastik di lautan. Ilmuwan menyatakan bahwa 99 persen plastik m ikroskopik di lautan hilang, kemungkinan dimakan hewan. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, PADEMANGAN - Peneliti Kimia Laut dan Ekotoksikologi Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Reza Cordova menyatakan lautan Indonesia darurat sampah plastik.

Menurut Reza, dampak dari pencemaran sampah plastik di lautan sangat memprihatinkan.

Reza menilai, dapak pencemaran sampah plastik tidak bisa dilihat hanya dari sisi estetika yang terjadi di lautan.

Meski memang lautan tampak kotor dengan pencemaran sampah plastik, ada hal yang lebih serius yang diakibatkan banyaknya sampah plastik di laut.

"Kita kan selama ini hanya melihat masalah estetika ya, tapi ada masalah lain di balik itu," kata Reza ketika ditemui di kantor P2O LIPI, Ancol, Jakarta Utara, Senin (10/12/2018).

Laut Indonesia Darurat Sampah Plastik, Apa Seharusnya Dilakukan?

21 Ton Sampah di Teluk Jakarta Berasal dari 7 Sungai Jakarta dan 2 Sungai Kota Satelit

Reza memaparkan, sampah plastik yang menghampar di lautan menjadi tempat berkumpulnya hewan-hewan renik yang menjadi makanan biota laut lainnya yang lebih besar. Hewan renik yang banyak ditemui dan menjadi makanan ikan-ikan adalah plankton.

Ikan-ikan ini, jelas Reza, tak bisa membedakan mana plankton, mana plastik. Apalagi ketika plankton menempel di sampah.

"Termasuk penyu dan kemarin kan paus ya, ditemukan sampah plastik banyak. Bisa jadi ada kemungkinan ketika hewan renik ini berkumpul ada paus memakan itu akhirnya secara tidak langsung mengganggu pencernaan," papar Reza.

Reza menuturkan, meskipun dilihat dari teksturnya plastik itu lembut, namun bila masuk ke pencernaan biota laut bisa membahayakan.

Halaman
12
Penulis: Gerald Leonardo Agustino
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved