Breaking News:

Penimbunan Limbah Radioaktif Dekat Sungai Citarum Resahkan Warga Rengasdengklok

Keberadaan mineral zirkon (ZrSiO4) di alam kebanyakan berasosiasi dengan beberapa mineral seperti monasit, senotim, dan ilmenit

Penulis: Nawir Arsyad Akbar | Editor: Muhammad Zulfikar
Istimewa
Aliran Sungai Citarum 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nawir Arsyad Akbar

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Desa Amansari, Kecamatan Rengasdengklok yang berada di Utara Karawang, merupakan bagian dari pertanian sawah beririgasi teknis Lumbung padi Nasional.

Namun saat ini, warga Rengasdenglok tengah mengalami keresahan dan kekhawatiran, karena adanya penimbunan dan pengarunan 'tailing pasir zirkon' PT Monokem Surya, yang berdekatan dengan Sungai Citarum.

"Adanya unsur radioaktif dalam bahan baku produksi PT Monokem Surya menjadi kekhawatiran masyarakat sekitar pabrik akan dampak jangka panjangnya," ujar Yuda Febrian Silitonga, Sekretaris Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum (ForkadasC+) lewat keterangan resminya, Rabu (19/12/2018).

Diketahui, PT Monokem Surya yang beroperasi sejak tahun 2013 lalu, memproduksi (ZrO2 + HfO2) antara 2.000 ton per bulan atau 24.000 ton per tahun, dengan konsentrat zirkon dengan kadar ZrO2 antara 65-66 micronized zircon.

Keberadaan mineral zirkon (ZrSiO4) di alam kebanyakan berasosiasi dengan beberapa mineral seperti monasit, senotim, dan ilmenit.

Selain itu, menurutnya adanya timbunan serta arugan dari sisa produksi (Tailing), berupa ilmenit (FeTiO3), rutil (TiO2), dan kuarsa (SiO2) (Triswan Suseno, 2016) di belakang pabrik menambah keresahan warga.

Wali Kota Jakarta Timur Dijadwalkan Hadiri Penerimaan Penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya

Pria yang Panjat Tiang Lampu Sorot Stadion UI Minta Panti Sosial di Jakarta Barat Ditutup

"Warga khawatir akan terjadi pencemaran air tanah dan air permukaan, pencemaran udara. Serta keresahan terganggunya kesehatan dalam jangka panjang dikarenakan effek radioaktif dari timbunan tailing PT Monokem Surya," ujar Yuda Febrian Silitonga.

Menurutnya, peraturan tentang limbah diatur dalam PP 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, serta pasal 55 serta 77 melarang melakukan pemanfaatan limbah tanpa izin.

Dalam Pasal 146, limbah tailing tersebut masuk kategori 2 dan harus dilakukan penimbunan pada fasilitas limbah kelas II.

"Artinya tidak ditimbun dan diurug sembarangan di wilayah terbuka yang berdekatan dengan Sungai Citarum, persawahan dan pemukiman Warga," ujar Yuda Febrian Silitonga.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved