Tsunami Selat Sunda

Terkuak Penyebab Tsunami Selat Sunda: 64 Hektare Gunung Anak Krakatau Amblas ke Laut

Skenario terkuatnya, Krakatau erupsi, terjadi longsor di lerengnya, dan akhirnya material longsor masuk ke laut membangkitkan tsunami.

Terkuak Penyebab Tsunami Selat Sunda: 64 Hektare Gunung Anak Krakatau Amblas ke Laut
twitter/TribunMedan
Letusan Gunung Anak Krakatau yang diabadikan pilot Susi Air, Minggu (23/12/2018) 

"Saya kira itu pemicu tsunaminya, bukan letusan Anak Krakatau," katanya.

Widjo mengungkapkan, untuk bisa lebih pasti, perlu dilakukan perkiraan volume longsoran yang jatuh ke lautan.

Riset itu mengungkapkan, tsunami karena longsoran pernah terjadi pada tahun 1981 dan berpotensi terjadi lagi pada masa depan selama Anak Krakatau masih tumbuh.

Penelitian Budianto Ontowirjo dari BPPT dan Thomas Giachetti dari University of Oregon di Geological Society London Special pada 2012, longsoran bisa bangkitkan gelombang dengan ketinggian awal 43 meter.

Dalam riset itu, Ontowirjo melakukan pemodelan dengan asumsi material bervolume 0,280 km3 longsor ke arah barat daya.

Foto satelit yang memperlihatkan <a href='https://jakarta.tribunnews.com/tag/erupsi' title='erupsi'>erupsi</a> <a href='https://jakarta.tribunnews.com/tag/gunung-anak-krakatau' title='Gunung Anak Krakatau'>Gunung Anak Krakatau</a> pada Agustus lalu

 
Foto satelit yang memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau pada Agustus lalu/GALLO IMAGES/ORBITAL HORIZON/COPERNICUS SENTIN

Gelombang awal setinggi 43 meter bisa menerjang tiga pulau kecil di sekitar Anak Krakatau dalam waktu kurang dari 1 menit dengan amplitudo gelombang 15 - 30 meter.

Gelombang dapat diteruskan ke daratan Jawa dan Sumatera dengan kecepatan 80 - 100 km/jam dan sampai dalam kurun waktu 35 - 45 menit setelah kejadian longsor.

Tsunami Selat Sunda pada Sabtu lalu menghantam daratan Banten dan Lampung sekitar 25 - 50 menit setelah kejadian erupsi Anak Krakatau.

Dalam pemodelan Ontowirjo, tsunami bisa mencapai ketinggian 1,5 meter di Merak dan Panimbang serta 3,4 meter di Labuhan.

Halaman
1234
Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved