Breaking News:

Tsunami di Banten

Korban Selamat Sempat Lihat Lava Pijar Gunung Anak Krakatau Sebelum Tsunami Datang Menerjang

Salah satu korban selamat di gathering PLN melihat puncak Gunung Anak Krakatau keluarkan lava pijar sebelum tsunami menerjang Pantai Tanjung Lesung.

Penulis: Ilusi | Editor: Y Gustaman
TribunJakarta/Ega Alfreda
Gubernur Banten Wahidin Halim, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Bupati Pandeglang Irna Narulita saat mendoakan korban meninggal Tsunami Selat Sunda di Puskesmas Carita, Minggu (23/12/2018) 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Duka belum berlalu saat tsunami menerjang pantai di Pandeglang, Banten, dan Lampung Selatan pada Sabtu (22/12/2018) memakan banyak korban

Agung, korban selamat tsunami Banten yang juga penyelenggara family gathering PLN di Tanjung Lesung Beach Resort menceritakan kisahnya.

Ia bersyukur dapat selamat dari bencana tsunami yang menyapu kawasan Tanjung Lesung malam itu.

"Alhamdulillah selamat kak, makanya aku enggak mau sedih-sedih lagi," ujar Agung dikutip TribunJakarta.com dari program acara Brownis Trans TV, Kamis (27/12/2018).

"Jadi saat itu saya EO dari Jigo," lanjut Agung.

Agung Korban Selamat Tsunami Tanjung Lesung
Agung Korban Selamat Tsunami Tanjung Lesung (Tangkapan layar YouTube Trans TV)

Agung menceritakan, dirinya diminta untuk menjadi pembawa acara gathering malam itu.

"Kebetulan pada malam itu, saya juga di minta jadi MC, sebelum Jigo," papar Agung lalu melanjutkan, "Jadi MC awal masih saya, baru masuk ke Jigo." 

Agung kerap membagikan momen gathering tersebut ke Instagram miliknya.

Ia mengaku bahagia sekali dengan adanya acara tersebut.

"Saat acara itu, memang aku banyak banget ngeshare untuk di Instagram," kata Agung.

FOLLOW :

"Dan itu happy, kita tidak merasakan ada apapun hingga Seventeen naik pun masih joget-joget masih nyanyi-nyanyi," tambahnya.

Bahkan, sebelum puncak acara berlangsung, dirinya dan peserta gathering lainnya sempat bermain banana boat.

Kendati begitu, dirinya tak sedikitpun merasakan keanehan atau firasat apapun.

"Siang kita juga ada outbound, water sport," tukas Agung.

"Saya pun termasuk sempat ikut banana boat," lanjut dia.

"Nggak merasa ada apapun, karena saya bahagia banget," imbuhnya.

 Rizal Armada Beri Dukungan dan Doa untuk Ifan Seventeen, Yuni Shara: Pengambilan Hikmah yang Cepat

 Rizal Armada Beberkan Kekagumannya ke Vokalis Seventeen, Begini Kata Ifan Hingga Beri Permohonan

Lantas Ivan Gunawan pun memperjelas cerita Agung.

"Jadi memang alam tidak menunjukkan apa-apa ya," sambar Ivan Gunawan.

Menurut Agung, dirinya dan rekan-rekan sudah melihat asap yang keluar dari Gunung Anak Krakatu pada siang hari.

"Cumamemang pada saat itu, Gunung Anak Krakatau itu sudah terlihat," papar Agung.

"Di siang hari asapnya sudah keluar, kalau malam hari api merah itu terlihat," jelasnya.

Sedangkan di malam hari, Agung berujar bahwa Gunung Anak Krakatau mengeluarkan api.

Namun, dirinya dan rekan-rekan tak berpikiran macam-macam.

Lantaran tak ada imbauan yang menyuruh dirinya dan rekan-rekan untuk menjauh dari pantai.

"Pada malam itu sudah terlihat sebenarnya, cuma tidak ada imbauan untuk menjauhi pantai itu," ucap Agung.

 Jessica Iskandar Sebut Kejutan Gading Marten Untuk Gempita Bentuk Kasih Sayang, Gisel Beri Bantahan

 Lulus Tes CPNS 2018? Ini Tahapan yang Masih Wajib Kamu Jalani

Cerita Korban Selamat Tsunami Banten dari Terseret Ombak hingga Pingsan: Saya Ngerasa Sakit

Slamet Purwanto (48), satu pegawai PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat (UIT JBB) memiliki pengalaman kelam setelah berhasil selamat dari tsunami yang menghantam Banten pada Sabtu (22/12/2018).

Dari mulai terseret ombak sejauh 1 kilometer ke bagian tengah Pantai Tanjung Lesung, tenggelam, berenang di antara jasad menggunakan balok hingga berhasil tiba di daratan dalam waktu nyaris satu jam.

Setibanya di daratan bersama satu kru Event Orgnaizer (EO) yang menangani Family Gathering PLN UIT JBB, Slamet masih harus dibuat terkejut melihat kondisi daratan yang sudah porak-poranda.

Di antara puing dan tenda yang digunakan band Seventeen tampil, Slamet menyaksikan sejumlah jasad yang tergeletak sehingga dia harus berhati-hati melangkah.

"Sampai daratan itu kondisinya sudah berantakan, banyak puing dan bekas tenda yang digunakan saat acara. Di tenda itu banyak jasad, saya hampir nginjek jasad karena kondisinya gelap," kata Slamet di RS Puri Cinere Depok, Senin (22/12/2018).

Rasa kalut mengiringi langkahnya menjauh dari pantai guna menyelamatkan diri, hanya keinginan untuk menjauh dari pantai kala melihat ombak yang masih menggulung dan jasad yang terkapar.

Langkahnya tertuju pada kilau lampu gedung yang berada cukup jauh dari daratan dan sebelumnya digunakan sebagai petunjuk arah waktu berenang ke daratan.

"Pikiran saya menjauh dari laut dulu lah, saya jalan dalam kondisi pincang. Enggak tahu kenapa bisa luka, karena pas ombak datang saya langsung terseret dan pingsan. Pas sadar itu baru saya ngerasa sakit," ujarnya.

 BREAKING NEWS: Dylan Sahara Ditemukan Meninggal, Ifan Seventeen: Kirimin Al-fatihah Buat Istriku

 UPDATE Korban Tsunami Selat Sunda: 373 Orang Meninggal Dunia, 1.459 luka-luka, 128 Hilang

 Nyaris 20 Tahun Berkarya, Seventeen Pamit, Ifan: Terima Kasih, Sahabat Sepanggung Sehidup Semati

Tak mudah bagi pria yang bertugas Staf Pemeliharaan Gardu Induk PLN UIT JBB untuk tiba di daratan dan akhirnya kini terbaring lemah di kamar 529 RS Puri Cinere Depok.

Upaya Slamet berenang menuju daratan sempat terhalang karena sekira lima meter sebelum tiba di daratan ombak kembali menggulung lalu menyeretnya hingga 800 meter ke tengah laut.

Lantaran ombak datang dari belakang, Slamet tak mengetahui pasti berapa ketinggian ombak kedua yang membuat upaya menyelamatkan dirinya tertunda.

"Sekitar lima meter sebelum daratan itu ada ombak kedua, kebawa saya lagi ke pantai. Kurang lebih 700-800 meter saya kebawa. Saya enggak tahu setinggi apa ombaknya karena datang dari belakang," tuturnya.

Pantauan udara dari pesawat Cesna 208B Grand Caravan milik Maskapai Susi Air di pesisir Banten yang terdampak tsunami. Foto menunjukkan sebagian rumah warga pesisir yang porak poranda di Kampung Sumur, Pandeglang, Banten
Pantauan udara dari pesawat Cesna 208B Grand Caravan milik Maskapai Susi Air di pesisir Banten yang terdampak tsunami. Foto menunjukkan sebagian rumah warga pesisir yang porak poranda di Kampung Sumur, Pandeglang, Banten (KOMPAS.com/Rakhmat Nur Hakim))

Perihal kondisinya, Slamet mengatakan hasil pemeriksaan dokter RS Puri Cinere menyatakan bahwa dia tak menderita patah tulang atau cedera kepala dalam.

Namun dia masih harus menunggu hasil pemeriksaan terkait kondisi paru-parunya karena sempat tenggelam di laut sebelum suara anak ketiganya, Afdan Latif (3) menyadarkannya dari pingsan.

"Sudah diperiksa sama dokter, enggak ada patah tulang atau geger otak. Tapi untuk hasil paru-paru saya enggak tahu, memang pas tenggelam saya banyak minum air laut. Tapi belum tahu hasilnya," lanjut Slamet.

 Ifan Ungkap Kesedihan Seusai Drumernya Ditemukan Meninggal: Allah Sayang Kowe Dibanding Menemaniku

 Intip Pesona Cantik Dylan Sahara Istri Ifan Seventeen

 Cerita Ifan Seventeen Terapung-apung Hampir 2 Jam di Laut saat Tsunami di Banten: Udah Hampir Nyerah

Kepala Bagian Humas RS Puri Cinere, Widya Karmadiyanti mengatakan jumlah pegawai PLN UIT JBB yang dirawat awalnya sebanyak 43 korban, namun yang masih dirawat inap sekarang hanya 18 orang.

5 di antara korban tersebut menderita patah tulang di bagian tangan, kaki dan sudah menjalani operasi serta mendapat pendampingan psikologis dari RS Puri Cinere guna memulihkan trauma.

"Yang masih dirawat sekarang ada 18 orang, 5 di antaranya menderita patah tulang dan sudah dioperasi. Kita juga memberikan pendampingan psikologis kepada korban dan keluarga yang menderita trauma," jelas Widya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved