Pilpres 2019

Kubu Prabowo Apresiasi Undangan Tes Baca Alquran, Tapi Malah Usul Begini

Usulan tes baca Alquran kepada calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang diinisiasi Ikatan Dai Aceh direspon kubu Prabowo.

Kubu Prabowo Apresiasi Undangan Tes Baca Alquran, Tapi Malah Usul Begini
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) beserta Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Salahudin Uno (kanan) membacakan ikrar deklarasi damai saat meghadiri Deklarasi Kampanye Damai Pemilu Serentak 2019 di Silang Monas, Jakarta, Minggu (23/9/2018). Deklarasi Kampanye Damai Pemilu Serentak 2019 yang diikuti KPU, pasangan Capres dan Cawapres, dan 16 partai politik nasional tersebut mengambil tema 'Kampanye anti SARA dan HOAKS untuk menjadikan pemilih berdaulat agar negara kuat'. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Usulan tes baca Alquran kepada calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang diinisiasi Ikatan Dai Aceh direspon kubu Prabowo. 

Politikus Partai Gerindra Andre Rosiade berterima kasih atas undangan Dewan Ikatan Dai Aceh terkait tes baca Alquran. 

Menurut Andre, tes baca Alquran masuk dalam isu agama sehingga tak etis lagi diperdebatkan di Pilpres 2019.

"Kami mengucapkan terimakasih dan mengapresiasi undangan itu. Tapi saya rasa isu agama tak usah diperpanjang lagi, karena empat kandidat capres-cawapresnya Muslim semua," kata Andre dalam keterangannya, Minggu (30/12/2018).

Apalagi, sambung Andre, undangan Dewan Ikatan DAI Aceh mendekati debat capres-cawapres 2019 di mana pada 17 Januari adalah debat capres pertama. 

Polemik Tes Baca Alquran untuk Jokowi dan Prabowo, Gus Nadir Ungkap Tugas Pemimpin dan Fakta Sejarah

"Pada 17 Januari nanti menghadapi debat capres 2019 pertama. Masyarakat lebih baik lagi disuguhkan soal program-program yang subtansi, soal ekonomi, soal kebutuhan masyarakat yang saat ini sulit. Itu penting," kata dia.

Kubu Prabowo sepertinya tidak melayani undangan tes Alquran, malah mengusulkan lebih baik agar semua capres-cawapres fokus mensosialisasikan program ekonomi.

"Tanggal 15 kita enggak mungkin datang, karena Pak Prabowo sedang istirahat menyiapkan tim," kata dia menambahkan.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldani, terlebih dulu akan membahas dengan tim pemenangan mengenai undangan yang dilayangkan oleh Dewan Ikatan DAI Aceh itu.

Menurut dia, selama ini Prabowo lebih senang datang berkumpul menemui ulama dan kiai untuk mendengarkan tausyiah dan lantunan Alquran. 

Menurut dia tidak etis apabila wilayah pribadi seperti ibadah disuguhkan ke ruang publik.

"Pastinya Pak Prabowo akan sangat sungkan kepada ulama-ulama yang keilmuannya lebih jauh tinggi," kata dia.

Soal tes baca Alquran, salat dan urusan ibadah, sambung Faldo, adalah persoalan yang bersifat privat.

"Bagi kami sejak awal, tidak etis seseorang politisi mempertanyakan persoalan privat seperti ini di ruang publik," ujar dia.

Tes baca Alquran memang menuai tanggapan beragam, mereka yang setuju momen ini membuktikan bagaimana kemampuan seorang pemimpin.

Peneliti radikalisme dan gerakan Islam, Ridlwan Habib melihat ajakan Ikatan Dai Aceh seharusnya ditanggapi positif Jokowi dan Prabowo.

"Tes baca Alquran bagi seorang calon pemimpin yang beragama Islam sangat wajar dan sangat demokratis. Justru publik makin tahu kualitas calonnya," ujar Ridlwan Habib dilansir Tribunnews.com.

Ridlwan menjelaskan, jika seorang non-Muslim dipaksa membaca Alquran barulah melanggar Pancasila dan asas demokrasi.

Namun baik Jokowi dan Prabowo sama-sama Muslim.

"Membaca Alquran adalah ibadah harian yang sangat lazim dilakukan oleh jutaan muslimin setiap hari di Indonesia. Saya yakin Pak Jokowi dan Pak Prabowo tidak ada masalah dengan itu," imbuh Ridlwan.

Justru, kemampuan membaca Alquran menambah trust atau rasa percaya dari masing-masing voter atau kelompok pemilih.

"Misalnya Pak Prabowo kan diusung oleh ijtima ulama, tentu sangat wajar kalau umat ingin tahu dan ingin mendengar bacaan Alquran Pak Prabowo," katanya.

Di Indonesia ada jutaan Taman Pendidikan Al Quran (TPA) yang setiap hari mendidik anak anak untuk bisa membaca Al Quran.

"Tes baca Al Quran akan sangat memotivasi anak anak itu untum bercita cita tinggi. Apalagi kalau disiarkan live di televisi, "kata Ridlwan.

Soal lokasi, lanjutnya, tidak harus di Aceh, bisa saja dilakukan di Jakarta dengan para penguji yang didatangkan dari Aceh.

"Kalau alasan kesibukan dan teknis itu gampang sekali. Ada ribuan masjid di Jakarta yang bisa dipakai misalnya Istiqlal atau masjid Sunda Kelapa," kata Ridlwan.

Tes baca Alquran juga akan mengakhiri perdebatan soal kualitas beragama masing-masing calon .

"Ini justru peluang emas bagi masing masing kubu untuk mendapatkan simpati dari kelompok pemilih Islam, "kata Ridlwan.

Ilustrasi.
Ilustrasi. (Tribunnews)

Tes baca Alquran tidak perlu

Intelektual muda NU, Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir berkicau di akun Twitternya @na-dirs.

Ia menghormati dan mengapresiasi niat baik Ikatan Dai Aceh yang mengundang Jokowi dan Prabowo tes membaca Alquran.

"Saya berpendapat tes baca al-Qur’an untuk Jokowi dan Prabowo tidak perlu. Kita membutuhkan pemimpin yang mampu mengadministrasikan keadilan sosial dalam programnya," kicau Gus Nadir pada Minggu (30/12/2018).

Nadirsyah beralasan, pada masa Khilafah ada pemimpin yang tidak fasih membaca Alquran atau keliru menjalankan tata cara shalat. 

Ada dua contoh yang Gus Nadir beberkan.

Satu masa, pada 3 Maret 893 Masehi, Khalifah al-Mu’tadidh menjadi imam salat Idul Adha tapi ada yang aneh.

Imam Thabari dan Imam Suyuthi saat itu melaporkan bahwa al-Mu’tadhid mengucapkan takbir enam kali pada rakaat pertama dan hanya sekali takbir di rakaat kedua.

Dan tidak terdengar dia menyampaikan khutbah.

Contoh lain, Khalifah al-Muqtadir mengangkat Ali bin Abi Syekhah sebagai ulama kerajaan.

Imam Suyuthi mengabarkan bagaimana saat naik khutbah, Ali menyampaikan khutbah dengan membaca teks dan itupun dia salah membaca ayat sehingga sangat fatal perbedaan artinya.

Dengan dua contoh di atas, Gus Nadir meminta semua pihak tidak mempolitisasi agama untuk menarik simpati publik memilih capres.

"Stop politisasi agama. Kealiman pemimpin itu dengan bertindak adil. Kefasihan pemimpin itu dengan menyejahterakan rakyatnya. Tahajud pemimpin itu dengan tidak bisa tidur mikirin rakyatnya yang kelaparan. Sedekahnya pemimpin itu dengan berantas korupsi," terang Gus Nadir.

 
 

Perspektif Gus Nadir soal tes baca Alquran tidak perlu bagi capres disertai data historis turut dikomentari satu di antara netizen Mustain Djufri.

Netizen yang menggunakan akun @gusmus_md ini berpendapat tak hanya para capres tapi cawapres juga perlu mengikuti tes baca Alquran.

"Bahkan wajib mughaladhoh hukumnya. Karena Preisden RI itu administrator, manajer dan leader hampir 90 persen penduduk Muslim, sehingga perlu bisa baca Alquran juga ilmu ke-Islaman," ungkap Mustaif Djufri.

Gus Nadir pun membalas netizen tadi dengan nada guyon.

Ia mengingatkan netizen tadi agar tidak tertukar istilah.

"Ini satu lagi: mau bantah tapi kok jadi begini sampai ada wajib mughaladhoh segala. Nanti ketukar jadi najis kifayah kan berabe, Fergussoooo. Maaf sekadar mengingatkan saja," cuit Gus Nadir.

Dalam ilmu fiqih, mughaladhoh (najis berat) merupakan satu dari tiga macam najis selain mukhoffafah (najis ringan) dan mutawasitoh (najis sedang).

Mengutip artikel Ini Jenis-jenis Wajib dalam Hukum Islam di NU.or.id, Syekh Wahbah Az-Zuhaily dalam Ushulul Fiqhil Islamy menjelaskan hukum wajib dibagi dari empat sudut pandang, yakni waktu pengerjaan, takaran, subyek pelaku dan penentuan obyek.

Dari sudut pandang subyek pelaku, wajib terbagi menjadi wajib ‘ain dan wajib kifayah.

Wajib ‘ain atau biasa disebut fardlu ‘ain ialah kewajiban yang dituntut oleh syariat untuk dilaksanakan oleh orang per orang, seperti shalat lima waktu, yang wajib bagi tiap-tiap Muslim.

Wajib kifayah atau biasa disebut fardhu kifayah ialah kewajiban yang dituntut untuk dilakukan tanpa memandang siapa yang melakukannya.

Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved