BMKG Beberkan Kronologi Tsunami Selat Sunda yang Melanda Banten dan Lampung

Rahmat Triyono mengungkap secara detail proses terjadinya tsunami Selat Sunda, yang melanda pesisir pantai Banten dan Lampung.

BMKG Beberkan Kronologi Tsunami Selat Sunda yang Melanda Banten dan Lampung
TribunJakarta/Ega Alfreda
Keadaan Pasar Sumur yang menjadi titik kerusakan terparah di Kecamatan Sumur akibat tsunami Selat Sunda, Kamis (27/12/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nawir Arsyad Akbar

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan hanya Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono mengungkap secara detail proses terjadinya tsunami Selat Sunda, yang melanda pesisir pantai Banten dan Lampung.

Menurutnya, pada Jumat (21/12/2018) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), telah mendeteksi adanya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau Lampung, dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 400 meter di atas puncak dan 738 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara, dan pada saat itu gunung anak krakatau berada pada status level II (waspada).

“Sebelumnya, kami telah memberikan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku tanggal 22 Desember 2018 pukul 07.00 WIB hingga tanggal 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda dengan ketinggian 1,5-2,5 meter," ujar Rahmat lewat keterangan resmi yang diterima, Senin (31/12/2018).

Viral Video Pria Pukul Wanita yang Sedang Salat di Samarinda, Begini Faktanya

Nia Ramadhani Emosi Gebrak Meja saat Ditanya Soal Kopi, Jedar Langsung Panggil Satpam

Kemudian pada Sabtu (22/12/2018) pukul 20.56 WIB, terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu longsor lereng Gunung Anak Krakatau seluas 64 hektar.

Dan pada pukul 21.03 WIB, tercatat di sensor seismograph BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJ) dan beberapa sensor di wilayah Banten serta Lampung.

Namun sistem prosesing otomatis gempa BMKG tidak memproses secara otomatis, karena sinyal getaran yang tercatat bukan merupakan signal gempabumi tektonik.

“Sistem Peringatan dini tsunami yang dimiliki oleh BMKG saat ini hanya untuk tsunami yang disebabkan gempa bumi tektonik. Sedangkan tsunami yang melanda Selat Sunda adalah akibat aktivitas vulkanik sehingga saat ada aktivitas vulkanik di Gunung Anak Kraktau, sistem peringatan dini tsunami tidak mampu memproses secara otomatis adanya aktivitas vulkanik sehingga tidak memberikan warning tsunami," ujar Rahmat.

BMKG lanjutnya tidak melakukan monitoring aktivitas Gunung Anak Krakatau dan gunung api lainnya, monitoring ini dilakukan oleh pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,Badan Geologi,Kementrian ESDM.

Halaman
12
Penulis: Nawir Arsyad Akbar
Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved