Mahfud MD Berkomentar Bagus Saat Tanggapi Soal Ribuan Triliun Utang Indonesia, Simak Penjelasannya

Mahfud MD berkomentar bagus ketika menanggapi soal ribuan triliun utang Indonesia, simak penjelasannya!

Mahfud MD Berkomentar Bagus Saat Tanggapi Soal Ribuan Triliun Utang Indonesia, Simak Penjelasannya
TribunJakarta.com/Leo Permana
Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila(BPIP), Mahfud MD saat usai menghadiri HUT Bhayangkara ke-72 di Istora Senayan, Jakarta Selatan. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menanggapi soal ribuan triliunan utang Indonesia.

Utang Indonesia sebagaimana diketahui mencapai Rp 4.516 Triliun per September 2018.

Melansir Kompas.con, Presiden Joko Widodo menuturkan, undang-undang sudah mengamanatkan bahwa utang Indonesia tidak boleh melebihi 60 persen dari produk domestik bruto (GDP).

"Sekarang ini pinjaman ke GDP Masih di angka 30-an persen. Masih separuh dari yang disampaikan UU kita," kata Jokowi dalam acara Satu Meja yang disiarkan Kompas TV, Senin (22/10/2018).

"Kalau dibandingkan negara lain pinjaman kita 30 persen itu masih kecil. Coba lihat negara lain, 60 persen, 80 persen ada yang 220 persen," tambah Jokowi tanpa merinci negara yang dimaksud,

Selain itu, Jokowi juga mengingatkan bahwa utang luar negeri sudah ada sejak awal ia menjabat sebagai Presiden.

Hanya saja, jumlahnya memang naik Rp 1.815 triliun dari posisi utang per September 2014.

Kendati demikian, Jokowi memastikan bahwa penambahan utang itu digunakan untuk sektor produktif.

Berdasarkan laporan Kemenkeu.go.id dilansir TribunJakarta.com pada Selasa (1/1/2019), Indonesia dengan defisit yang rendah, menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi.

Dengan kata lain, tambahan utang menjadi lebih kecil apabila dibandingkan tambahan manfaat yang diperoleh.

Hal tersebut terbukti dengan rata-rata defisit Indonesia selama 10 tahun terakhir termasuk yang paling kecil di dunia.

Video Wudhu Sandiaga Uno Viral, Mahfud MD Sebut Air dalam Gayung Suci Tapi Tak Bisa Mensucikan

Banten Dilanda Musibah, Mahfud MD: Tsunami Sebagai Sunnatullah Kerjanya Alam Bisa Nimpa Siapa Saja

Kenang Kebersamaan dengan Suami di 2019, Istri Herman Seventeen: Tak Melupakan Tapi Mulai Harapan

Dibandingkan dengan negara lain, rata-rata defisit Indonesia sebesar -1,6% per PDB dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6%, sedangkan Turki, Mexico dan Brazil memiliki rata-rata defisit sebesar -2,1%, -3,3% dan -4,3% dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8-%, 2,2%, dan 2,1%.

Kini berdasarkan penelusuran TribunJakarta.com, Mahfud MD awalnya mengingatkan kepada masyarakat terkait rayuan meminjam uang yang tiap hari datang.

Follow Juga:

Mahfud MD menyatakan, melalui WhatsApp hingga media sosial seperti Twitter, setiap hari datang rayuan agar kita meminjam utang dengan berbagai jaminan.

Menurutnya ada fenomena tersebut membuat ngutang itu mudah tetapi ketika akan membayar kita diburu bagaikan tikus.

"Melalui WA, SMS, Twitter, setiap hr datang rayuan agar kita meminjam uang. Jaminannya BPKB mobil bahkan ada yg tanpa jaminan. Ber-hati2lah, ngutang itu gampang, semua ingin memberi utangan. Tapi pd saat hrs membayar kita di-buru2 bagai tikus. Bnyk yg pakai debt collector," tulis @mohmahfudmd pada Selasa (1/1/2019).

Lalu, ada warga net yang membalas cuitannya tersebut dan menanyakan terkait utang Indonesia yang ribuan triliun.

"Nah....bgmn prof dgn hutang yg ribuan trilyun? Kl gagal bayar apa ga tersandera negeri ini?," tanya akun Twitter @faisaldeh.

Mahfud MD mengatakan, asal ngutang dengan perhitungan matang maka dipersilahkan saja.

Follow Juga:

Guru Besar FH UII Yogyakarta itu juga menyatakan, makin besar hutang maka makin tinggi kemampuan bayar plus untungnya sehingga bagus.

Meski demikian, yang harus dingat adalah yang mengutang tanpa tahu bagaimana cara membayarnya.

Cuitan Mahfud MD
Cuitan Mahfud MD (Twitter/Mohmahfudmd)

Hal tersebut lah yang nantinya bisa menjerat seseorang.

Ramalan Lengkap 12 Shio di Tahun Babi Tanah 2019, Shio Kerbau Jadi Tahun Baik untuk Hasilkan Uang!

Ramalan Zodiak di 2019, Aries Akan Beruntung di Percintaan, Virgo Saat Miliki Waktu Berkualitas

Mahfud MD pun memberikan contoh dari penjelasannya yakni terkadang ada pihak yang dipaksa mengutang motor kemudian 3 bulan setelahnya disita plus bunganya.

"Asal ngutang dgn perhitungan matang, silakan. Makin besar hutang, makin tinggi kemampuan bayar plus untungnya. Itu bagus. Yg hrs kita ingatkan adl yg ngutang tanpa tahu bgmn membayarnya. Itu yg bs menjerat. Kadang ada yg dipaksa ngutang motor, 3 bln kemudian disita plus bunganya," tulisnya @mohmahfudmd.

Tanggapan Wapres Jusuf Kalla

Wakil Presiden Jusuf Kalla, menegaskan Pemerintah memiliki kemampuan membayar utang yang dipinjam untuk membiayai pembangunan.

Pernyataan itu disampaikan Wapres JK menanggapi kritikan bakal calon presiden Prabowo Subianto yang menyinggung utang pemerintah yang setiap hari naik Rp 1 triliun.

"Jadi bukan soal jumlah. Bisa bayar atau tidak? Jadi bukan soal Rp 1 Triliun, mampu kita bayar tidak?" ujar Wapres JK ditemui di kantor Wakil Presiden, Selasa (4/9/2018).

Dia mengibaratkan status Indonesia sebagai negara berkembang seperti sebuah perusahaan. Jika tidak mempunyai modal, kata dia, maka pemerintah dapat meminjam.

"Semua negara yang ingin membangun sama dengan perusahaan. Semua negara yang membangun butuh dana. Kalau tidak mempunyai modal maka harus meminjam," kata dia.

Liburan di London, Nia Ramadhani Diejek Ini Oleh Warga Setempat Saat Masuk Toko: Kesel Banget Gue!

Kisah Istri Herman Seventeen di Balik Pemakaman Suaminya Almarhum yang Pertama Dikuburkan Disini

Menurut pria berlatar belakang pengusaha itu semua negara yang sedang membangun membutuhkan dana. Untuk mendapatkan dana banyak cara dapat dilakukan.

Dia mencontohkan, Amerika Serikat meminjam uang, tetapi peminjaman uang dilakukan dengan cara mencetak uang. Lalu, Jepang meminjam uang dengan cara mengambil dari dana pensiun.

"Kami karena tidak cetak duit terlalu banyak, karena tidak laku di luar negeri, maka kami minjam World Bank dari perbankan-perbankan. Itu biasa saja. Jumlahnya itu relatif tergantung kemampuan. Sama dengan perusahaan," kata dia.

Namun, dia tidak dapat menyebutkan secara rinci berapa nominal utang permintah. Meskipun utang, dia menegaskan, masih dapat dibayar.

"Saya belum hitung seperti itu, tetapi memang jumlahnya per tahun. Kami tidak hitung per hari. Kami hitung tahunan. Ada tambahan Rp 200 T, ada mungkin 300 (triliun). Selama kita bisa bayar, bukan urusan T-nya, bisa bayar tidak? kita bisa bayar," kata Jusuf Kalla.

(TribunJakarta/Tribunnews)

Penulis: Kurniawati Hasjanah
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved