Tahun Baru 2019

Saat Traktir Paspampres Sate di Malam Tahun Baru Jokowi Pilih Kenakan Sarung, Terungkap Filosofinya

Di momen malam tahun baru 2019, Presiden Jokowi mentraktir Pasukan Pengamanan Presiden (atau Paspampres) aneka sate.

Saat Traktir Paspampres Sate di Malam Tahun Baru Jokowi Pilih Kenakan Sarung, Terungkap Filosofinya
TRIBUNNEWS
Jokowi traktir Paspampres aneka hidangan khas malam tahun baru dalam jamuan santai. 

“Kain sarung mengandung filosofi yang luar biasa. Mengapa? karena kain sarung jika dikenakan untuk menutup kepala, maka kaki akan kedinginan dan jika ditutup kaki, maka kepala kedinginan,” kata Jefry Noer, di Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kampar, Senin (9/3/2015),seperti dilansir aktual.co.

Menurut dia, kain sarung mengandung makna filosofi yang dalam, mengajarkan orang untuk senantiasa belajar untuk menerima hidup apa adanya tanpa meninggalkan perjuangan demi masa depan yang cerah.

“Orang yang pintar, ketika mengenakan kain sarung yang tidak sampai ke kepala dan kaki, maka akan menggulungkan tubuhnya hingga menyerupai udang dan pada akhirnya tertutup kepala dan kaki. Jadi tidak lagi kedinginan,” katanya.

Menurut Jefry, maksa filosofi kain sarung sangat luar biasa, mengajarkan orang untuk sabar dan mencukup-cukupi apa yang ada, hanya bagaimana memutar otak agar mendapatkan yang belum ada.

Jangan coba-coba, kain sarung itu ditambah lebar dan panjangnya, karena menurut dia hal itu justru akan mengubah namanya menjadi selimut, tidak lagi kain sarung.

Selain itu, lanjut Jefry, kain sarung juga memiliki kegunaan yang banyak, selain untuk selimut juga bisa untuk shalat, dan bisa juga untuk handuk dan kerudung penutup kepala.

Maknanya menurut dia adalah, orang yang hidup dengan filosifi kain sarung akan mampu hidup walau dengan kondisi susah, dan akan mudah memecahkan segala persoalan yang dihadapinya.

Jefry Noer menceritakan, dirinya merupakan orang yang senantiasa belajar dari pengalaman hidup susah. Ketika kecil, meski keluarga merupakan kalangan orang berada, namun dia telah merasakan hidup susah sebagai pedang kue.

“Ketika itu umur saya masih kurang dari sepuluh tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun saya telah merasakan susahnya hidup, mencari uang dengan berjualan kue,” katanya.

Jefry juga mengatakan, dirinya sempat tidur di pinggur jalan, dekat emperan toko bersama teman-teman semasa itu. “Makna filosofi kain sarung telah saya pelajari sejak saat itu. Ditutup kepala kaki kedinginan, ditutup kaki kepala kedinginan. Hingga akhirnya saya menggulungkan badan hingga kain sarung menutup kepala dan kaki,” katanya.

Dalam hidup, demikian Jefry, belajaar untuk susah adalah hal paling sulit bagi setiap orang, namun untuk senang tidak harus diajarkan. Maka terpenting dalam hidup, adalah bagiamana menerima situasi sulit untuk kemudian senang dikemudian hari.

Jefry Noer kecil menjalani hidup dengan jerih payah. Namun dia akhirnya menjadi sosok yang kuat, penuh semangat, hingga menjalani kehidupan menjadi pengusaha sukses.

Pada 2001, Jefry Noer terpilih menjadi Bupati Kabupaten Kampar. Kemudian sempat kembali menekuni bisnisnya pada 2006-2011 dan akhirnya didorong kembali oleh masyarakat untuk mencalokan diri sebagai bupati menggantikan Burhanuddin (bupati 2006-2011).

Jefry akhirnya kembali memimpin Kampar sejak 2011 hingga saat ini. Dalam kepemimpinannya, dia mengedepankan Program Lima Pilar Pembangunan yakni meningkatkan akhlak dan moral masyarakat, peningkatan ekonomi masyarakat, peningkatkan sumber daya manusia, peningkatan kesehatan dan peningkatan infrastruktur.

“Saya berharap angka kemiskinan di Kampar terus ditekan hingga zero pada akhir 2016 mendatang. Jangan lagi ada kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh di Kabupaten Kampar. Inilah misi yang saat ini sedang saya jalani sebagai bentuk terimakasih kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan,” katanya.

Penulis: Rr Dewi Kartika H
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved