Breaking News:

Kata BMKG Soal Kemungkinan Terburuk Akibat Kondisi Gunung Anak Krakatau

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memberikan penjelasan mengenai kondisi terkini dari Gunung Anak Krakatau.

Editor: Ilusi Insiroh
KOMPAS/RIZA FATHONI
Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). ( 

TRIBUNJAKARTA.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memberikan penjelasan mengenai kondisi terkini dari Gunung Anak Krakatau.

Diketahui, Gunung Anak Krakatau telah menunjukkan aktivitasnya sejak beberapa waktu terakhir.

Bahkan, aktivitas Gunung Anak Krakatau telah menyebabkan terjadinya tsunami di Banten dan juga Lampung.

Dukutip dari Kompas.com, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau mengalami penyusutan dari ukuran 338 meter di atas permukaan laut menjadi 110 meter saja.

"Pantauan terbaru kami lewat udara, gunung sudah landai, asap mengepul dari bawah air laut. Tapi di badan gunung yang tersisa di permukaan, ada celah yang mengepul terus mengeluarkan asap, celah itu pastinya dalam, bukan celah biasa," kata Dwikorita.

Hal tersebut akibat erupsi yang yang terus terjadi pada Gunung Anak Krakatau.

Saat ditemui di Posko Terpadu Tsunami Selat Sunda, Labuan Kabupaten Pandeglang Selasa (1/1/2019), Dwikorita menjelaskan bahwa menemukan adanya retakan di tubuh Gunung Anak Krakatau.

UPDATE CPNS 2018: BKN Umumkan Per 2 Januari 2019, 504 Instansi Lolos DS, Simak Tahap Selanjutnya

Diserang Netizen Saat Bela Billy Syahputra, Astrid Kuya Geram: Aduh Ribet Benar Yah Kalian

 

anak gunung krakatau semakin landai dan ada 2 retakan baru, BMKG khawatirkan terjadi tsunami
anak gunung krakatau semakin landai dan ada 2 retakan baru, BMKG khawatirkan terjadi tsunami (Dokumentasi Pokdarwis Pulau Sebesi)

Dia menjelaskan bahwa menemukan dua retakan baru dalam satu garis lurus di salah satu sisi badan Gunung Anak Krakatau.

Dwikorita menduga, retakan tersebut terjadi lantaran adanya getaran tinggi yang muncul saat gunung mengalami erupsi.

Adanya retakan tersebut pada akhirnya membuat pihak BMKG khawatir soal kondisi bawah laut Gunung Anak Krakatau ketika adanya jurang di sisi barat dan juga selatan.

"Yang kami khawatirkan di bawah laut curam, di atas landai. Jika retakan tersambung, lalu ada getaran, ini bisa terdorong, dan bisa roboh (longsor)," ujar dia.

Bagian yang akan mengalami longsor tersebut membunyai volume 67 kubik dengan panjang sekitar 1 kilometer.

Meski dikatakan volumenya jauh lebih kecil dari longsoran yang menyebabkan tsunami Banten dan Lampung, Dwikorita tetap mengkhawatirkan adanya tsunami susulan.

Halaman
1234
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved